alexametrics
Sains
Kamis, 06 Mei 2021

Berusia 3.000 Tahun, Arkeolog Temukan Kota Emas Hilang di Mesir

Kota emas yang hilang terkubur selama 3.000 tahun.

Dinar Surya Oktarini
cloud_download Baca offline
Ilustrasi Mesir. (pixabay/Nadine Doerle)
Ilustrasi Mesir. (pixabay/Nadine Doerle)

Hitekno.com - Terkubur di bawah kota Mesir kuno Luxor selama 3.000 tahun, kota emas yang hilang akhirnya kembali ditemukan para arkeolog

Kota yang secara historis dikenal sebagai "The Rise of Aten" ini didirikan oleh Amenhotep III (memerintah 1391-1353 SM), kakek dari Tutankhamun atau Raja Tut.

Orang-orang Mesir kuno terus menggunakan "Kota Emas" selama pemerintahan Amenhotep III dengan putranya, Amenhitep IV atau Akhenaten, serta selama pemerintahan Tut dan firaun yang dikenal sebagai Ay.

Terlepas dari sejarah kota yang kaya, dokumen sejarah melaporkan bahwa kota itu adalah rumah bagi tiga istana kerajaan milik Raja Amenhotep III dan merupakan pemukiman administratif serta industri terbesar di Luxor pada saat itu.

Sayangnya, peninggalannya tidak dapat ditemukan oleh para arkeolog hingga sekarang.

"Banyak misi luar negeri mencari kota ini dan tidak pernah menemukannya," kata Zahi Hawass, arkeolog yang memimpin penggalian Kota Emas dan mantan menteri negara urusan barang antik, dikutip dari Live Science, Senin (12/4/2021).

Kota emas hilang di Mesir. [Antiquities]
Kota emas hilang di Mesir. [Antiquities]

Hawass dan timnya memulai pencarian pada 2020 dengan harapan menemukan kuil kamar mayat Raja Tut.

Namun, tim arkeolog terkejut ketika mulai menemukan batu bata lumpur di mana pun mereka menggali.

Para ahli segera menyadari bahwa mereka telah menemukan kota besar dengan kondisi masih relatif baik.

"Jalan-jalan kota diapit oleh rumah-rumah, beberapa dengan dinding setinggi 3 meter. Rumah-rumah ini memiliki ruangan dipenuhi pernak pernik dan perkakas, yang digunakan orang Mesir kuno dalam kehidupan sehari-hari," tambah Hawass.

Menurut Betsy Brian, profesor Egyptology di John Hopkins University, penemuan kota yang hilang ini adalah penemuan arkeologi terpenting kedua sejak makam Tutankhamun pada 1922.

"Penemuan Kota yang Hilang akan membantu kita menjelaskan salah satu misteri terbesar dalam sejarah, mengapa Akhenaten dan Ratu Nefertiti memutuskan untuk pindah ke Amarna," ucap Brian.

Beberapa tahun setelah Akhenaten memulai pemerintahannya pada awal 1350 SM, Kota Emas ditinggalkan dan ibu kota Mesir dipindahkan ke Amarna.

Setelah menyadari penemuan tersebut, tim ahli mulai mencari benda-benda kuno bertuliskan cartouche Amenhotep III, sebuah oval yang diisi dengan nama kerajaannya dalam hieroglif.

Tim menemukan cartouche tersebut di mana-mana, termasuk di bejana anggur, cincin, tembikar, hingga batu bata lumpur, yang menegaskan bahwa kota itu aktif pada masa pemerintahan Amenhotep III.

Setelah tujuh bulan penggalian, para arkeolog menemukan beberapa bangunan. Di bagian selatan kota, terdapat sisa-sisa toko roti yang memiliki area persiapan makanan dan memasak berisi oven.

Kota emas hilang di Mesir. [Antiquities]
Kota emas hilang di Mesir. [Antiquities]

Di wilayah lain, yang masih sebagian tertutup dari penggalian, para arkeolog menemukan sebuah distrik administratif dan pemukiman yang memiliki unit-unit yang lebih besar dan tertata rapi.

Desain arsitektur yang digunakan menjelang akhir Dinasti ke-18 seperti pagar zigzag menutup area tersebut dan hanya bisa diakses oleh satu pintu masuk.

Akses tunggal ini kemungkinan berfungsi sebagai langkah pengamanan.

Di daerah lainnya, para arkeolog menemukan area produksi batu bata lumpur, yang digunakan untuk membangun kuil dan bangunan tambahan.

Batu bata ini memiliki segel dengan cartouche Raja Amenhotep III.

Sementara itu, hampir di seluruh bagian kota, para arkeolog menemukan perkakas yang berhubungan dengan pekerjaan industri, termasuk pemintalan dan penenunan.

Tim ahli juga menemukan beberapa makam, mencakup dua makam tidak biasa dari sapi atau banteng dan makam seseorang yang dikuburkan dengan lengan direntangkan ke samping serta memiliki tali yang melilit di lutut.

Penemuan makam juga termasuk kuburan besar yang belum digali sepenuhnya. Sejauh ini, tim telah menemukan sekelompok kuburan batu yang hanya dapat dicapai melalui tangga.

Dalam beberapa bulan mendatang, para arkeolog berencana menggali makam tersebut untuk mempelajari lebih lanjut terkait orang-orang dan harta karun yang terkubur di sana. (Suara.com/Lintang SIltya Utami)

Terkait

Terkini