Rabu, 25 November 2020

Awasi Hutan, Taman Nasional Bali Barat Jajai Pemanfaatan Teknologi AI

Kolaborasi ini akan membuka kemungkinan pemanfaatan teknologi AI dalam pengawasan hutan.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta
cloud_download Baca offline
Dr. Alue Dohong, Msc, Wamen LHK. (dok. Huawei Indonesia)
Dr. Alue Dohong, Msc, Wamen LHK. (dok. Huawei Indonesia)

Hitekno.com - Taman Nasional Bali Barat, menjajaki kemungkinan kerja sama dalam pemanfaatan kecerdasan buatan atau teknologi AI (Artifisial Intelegent) dalam pengawasan hutan.

Kepala Taman Nasional Bali Barat Agus Ngurah menerima kunjungan tim survei lapangan pemerintah (Buleleng, 24/10). Tim survei tersebut merupakan tim lintas kementerian yang terdiri dari perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Badan Siber dan Sandi Negara, Badan Intelijen Negara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama tim teknis Huawei melakukan penjajakan kerja sama pilot project CSR Huawei dalam program Tech4All, Smart Forest Guardian (pengawasan hutan dengan teknologi AI) yang diproyeksikan dibangun di kawasan Taman Nasional Bali Barat.

Kegiatan ini merupakan tidak lanjut  rapat koordinasi yang dilakukan oleh Kemenko Marves bersama dengan Kemenkominfo, KLHK, BPPT, BIN, BSSN, serta Huawei pada Rapat Koordinasi Peningkatan Pengawasan Kawasan Hutan secara virtual pada hari Selasa (06-10-2020).

Menko Marves Luhut B. Pandjaitan yang memimpin rakor mengatakan bahwa peningkatan kawasan hutan menjadi hal yang utama. Ia mengatakan, dengan memanfaatkan teknologi Huawei pihaknya dapat langsung memantau perekaman data melalui suara, untuk dapat membuat data yang lengkap mengenai aktivitas hutan kita di Indonesia.

"Dengan teknologi tersebut, kita dapat mencegah aktivitas illegal yang terjadi di hutan kita. Kami meminta kepada Huawei dan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk dapat mengharmonisasi sistem dan data yang akan dikembangkan untuk dapat menjadi lompatan yang luar biasa dalam pengawasan aktivitas illegal dalam hutan di Indonesia," ujarnya.

Smart Forest Guardian. (dok. Huawei Indonesia)
Smart Forest Guardian. (dok. Huawei Indonesia)

 

Sehubungan dengan pemanfaatan teknologi yang dikembangkannya untuk tujuan preservasi lingkungan ini, Jacky Chen, CEO Huawei Indonesia mengatakan, "Sebagai penyedia TIK terkemuka di dunia yang telah 20 tahun hadir di Indonesia, Huawei berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia dalam mengantisipasi tantangan dan peluang melalui pemanfaatan teknologi. Selama masa pandemi, kami juga telah mengontribusikan teknologi Kecerdasan Arfisial (AI) dan Cloud bagi dunia kesehatan dan pendidikan. Merupakan kebanggaan bagi kami dapat memperluas kontribusi hingga menjangkau bidang lingkungan hidup di Indonesia melalui inisiatif global untuk inklusi digital TECH4ALL yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial Huawei dalam pemberdayaan teknologi digital bagi lingkungan, pendidikan dan kesehatan."

Huawei  berkolaborasi dengan Lembaga Nirlaba (NGO) Rainforest Connection membangun Smart Forest Guardian menggunakan teknologi AI untuk melindungi hutan dari pembalakan dan perburuan liar, serta upaya konservasi alam di Taman Nasional Bali Barat. Rainforest Connection telah menggunakan teknologi ini di hutan hujan tropis Kosta Rica, Filipina dan beberapa negara lain.

"Kami sangat percaya bahwa teknologi yang baik dapat membawa manfaat yang lebih besar bagi dunia. Keterlibatan ini menjadi bagian awal dari perjalanan bersama untuk lingkungan yang makin lestari."

Tim survei juga berkesempatan menerima arahan dari Wakil Menteri LHK Alue Dohong yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bali Barat. Alue Dohong meninjau penangkaran burung Jalak Bali dan melakukan pelepasliaran Jalak Bali (23/10).

Jalak Bali merupakan satwa endemik Bali yang menjadi maskot Taman Nasional Bali Barat. Keberadaannya di habitat aslinya hanya tinggal beberapa ratus ekor saja. Bahkan sempat nyaris punah karena perburuan liar.

Smart Forest Guardian. (dok. Huawei Indonesia)
Smart Forest Guardian. (dok. Huawei Indonesia)

 

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno juga memberikan arahan kepada tim survei (24/10). Wiratno menjelaskan bahwa saat ini KLHK juga telah memanfaatkan teknologi untuk pengawasan satwa. "Saat ini sudah pakai Camera Trap dan GPS Collar, untuk memantau gajah sumatera."  Wiratno menerangkan, "Dengan kerja sama ini, teknologi AI (artificial intelligence) dimanfaatkan untuk mendeteksi suara yang berada di hutan. Deteksi suara ini juga dapat memperkaya sistem yang sudah dimanfaatkan KLHK untuk memantau satwa di Indonesia."

Teknologi ini diharapkan membantu pengamanan dan pengawasan hutan dari illegal logging, illegal mining, illegal poaching, pemantauan satwa, wisata alam, serta pengayaan dan pemanfaatan data kehutanan. Wiratno menambahkan saat ini Indonesia memiliki 54 taman nasional yang mana sebagian diantaranya merupakan situs warisan dunia (World Heritage) UNESCO.

Diketahui, Indonesia memiliki koleksi 400 spesies burung endemik. Hingga dapat dikatakan terbanyak di dunia. Artinya ada 400 jenis burung endemik yang hanya bisa ditemukan di Indonesia. Salah satunya jalak bali yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bali Barat.

Wiratno menjelaskan bahwa baru-baru ini pihaknya bekerja sama dengan komunitas burung dan Swiss Winasis, telah menerbitkan buku Atlas Burung Indonesia. Memanfaatkan teknologi AI, keragaman suara satwa rencananya akan dikelola dalam virtual sound museum. Ia berujar, "Melalui teknologi yang akan kita kembangkan bersama Huawei dan Rainforest Connection, kita dapat membuat virtual sound museum yang berisi suara-suara yang tertangkap dari alat yang akan dipasang di hutan."

Kepala Taman Nasional Bali Barat Agus Ngurah menyambut baik rencana kerja sama ini. "Kehadiran teknologi yang akan kita kembangkan bersama Huawei dan Rainforest Connection ini akan bermanfaat dalam membantu kami melindungi hutan, khususnya di Taman Nasional Bali Barat dengan satwa endemik Jalak Bali yang juga merupakan satwa dilindungi karena tergolong langka," pungkasnya.

Terkait

Terkini