Kamis, 29 Oktober 2020
Agung Pratnyawan : Selasa, 29 September 2020 | 14:00 WIB

Hitekno.com - Dalam rangka menyiapkan misi ke Bulan, badan atariksa Amerika Serikat atau NASA telah menyiapkan sejumlah hal. Termasuk baju antariksa yang digunakan astronot dalam proyek Atemis ini nanti.

NASA sendiri telah menyiapkan proyek artemis sebagai misi ke Bulan pada 2024. Kini sedang disiapkan baju antariksa yang lebih dulu diuji coba di dalam air.

Badan antariksa ini telah merancang baju baru yang akan dikenakan para astronot dalam misi Artemis dan sekarang sedang mengujinya untuk memastikan mereka benar-benar mampu berjalan serta melakukan tugas-tugas kompleks. Dan banyak dari pengujian itu dilakukan dalam medium air.

Di Neutral Buoyancy Lab NASA, para astronot berlatih mengenakan baju antariksa di kolam raksasa dalam rangka simulasi berada dalam gayaberat mikro.

Kolam ini memiliki panjang 61 m, lebar 31 m, dan kedalaman 12,3 m. Ini berisi 6,2 juta galon air atau sekitar sembilan kolam renang ukuran Olimpiade.

Menurut para astronot, kolam ini sangat membantu untuk mempersiapkan mereka ke luar angkasa.

"Ketika saya melakukan perjalanan ruang angkasa pertama saya, tak lama setelah kami keluar dari palka, Matahari terbenam dan hari menjadi gelap, dan rasanya persis seperti saya berada di kolam," kata Nick Hague, salah satu astronot dalam sebuah podcast NASA, seperti dikutip Business Insider pada Senin (28/9/2020).

Para astronot di Neutral Buoyancy Lab NASA tengah berlatih menggunakan palu untuk kegiatan ekspedisi di Bulan [NASA via Business Insider].

 

Neutral Buoyancy Lab dirancang untuk meniru gayaberat mikro, bukan gravitasi nol dan karena itulah yang dialami astronot di stasiun luar angkasa. Kolam yang diciptakan berisi mockup skala penuh dari komponen stasiun luar angkasa dan pesawat luar angkasa pembawa kargo yang digunakan untuk misi pasokan atau supply.

"Kami memiliki pengalaman dengan stasiun luar angkasa, tetapi kami perlu menentukan cara kami akan melatih awak untuk operasi permukaan selama misi khusus ini," ucap Daren Welsh yang memimpin pengujian dalam blog NASA.

Saat berlatih untuk berjalan di stasun luar angkasa, astronot biasanya mengapung di sekitar kolam. Pakaian astronot diberi bobot agar mengapung secara netral sehingga tidak tenggelam ataupun mengapung secara berlebihan.

Namun, perjalanan di Bulan berbeda. Tidak seperti stasiun luar angkasa, Bulan memiliki tarikan gravitasi kecil sekitar satu per enam dari Bumi.

Sehingga dalam latihan dan pengujian yang terkait dengan misi Bulan, pakaian antariksa diberi bobot untuk membuatnya tenggelam. Astronot kemudian berlatih berjalan melintasi dasar kolam yang telah ditutupi oleh bebatuan dan pasir sebagai bentuk simulasi kondisi tanah Bulan.

Di bawah air, para astronot berlatih menancapkan bendera, memungut batu, dan memeriksa pesawat luar angkasa pendarat Bulan.

Ilustrasi pakaian astronot [Shutterstock].

 

NASA belum secara resmi memilih astronot untuk misi Artemis, tetapi praktik semacam ini sangat penting untuk menguji baju antariksa dan melatih orang-orang yang pada akhirnya mungkin akan berjalan di Bulan.

Menurut astronot Apollo 17, Jack Schmitt, melintasi permukaan Bulan yang berbatu dan tidak rata dalam gravitasi rendah adalah hal sulit dan ia mengatakan jatuh beberapa kali saat berjalan di Bulan.

Selanjutnya, para astronot juga perlu mempelajari cara mengayunkan pahat dengan aman dalam gaya gravitasi Bulan untuk memastikan palu tidak mengenai seseorang atau terbang menjauh. Astronot juga harus mempersiapkan kondisi cahaya di Kutub Selatan Bulan.

Pencahayaan di sana lebih ekstrem daripada di lokasi tempat misi Apollo mendarat, di mana beberapa area Bulan hampir selalu terang, sedangkan yang lain hampir selalu dalam bayangan.

Selain Neutral Buoyancy Lab, staf NASA juga mengembangkan pelatihan berjalan di Bulan di Johnson Space Center yang memiliki area luar ruangan besar yang meniru medan berbatu dan landai di Bulan.

Itulah persiapan nasa dalam proyek Artemis untuk ke Bulan, yakni menguji coba baju antariksa untuk para astronot nanti. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).

BACA SELANJUTNYA

NASA Siap Ungkap Rahasia Asteroid Bennu, Batuan yang Bisa Menabrak Bumi