Kamis, 24 September 2020
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Senin, 14 September 2020 | 18:00 WIB

Hitekno.com - Sebuah gua air tawar terdalam di dunia menarik perhatian ilmuwan untuk menelitinya. Bagaimana tidak, ternyata dasar gua yang dinamai Hranice Abyss tersebut lebih dalam dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Berdasarkan penelitian terbaru, Hranice Abyss yang terletak di Hranice, Ceko ini memiliki kedalaman sekitar 0,6 mil (1 km).

Itu berarti lebih lebih dari dua kali perkiraan kedalaman sebelumnya.

Kembali pada tahun 2016, para ilmuwan mengukur kedalaman Hranice Abyss saat itu ada pada 1.552 kaki (473 meter).

Tetapi mereka menduga kedalamannya lebih menjorok lagi karena kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh telah mencapai ujung kabel komunikasi serat optiknya.

Gua air tawar terdalam di dunia, Hranice Abyss, dibandingkan dengan bangunan tertinggi di dunia. (AGU)

 

Sekarang, dengan menggunakan beberapa teknik pencitraan geofisika, tim peneliti yang dipimpin oleh Radek Klanica dari Akademi Ilmu Pengetahuan Ceko telah menetapkan perkiraan kedalaman baru untuk Hranice Abyss.

Penelitian mengenai Hranice Abyss yang dinobatkan sebagai gua air tawar terdalam di dunia telah diterbitkan di Journal of Geophysical Research: Earth Surface.

Terletak 185 mil (300 km) di timur Praha, Hranice Abyss berada pada lingkungan karts (medan yang terbentuk saat batuan yang larut, seperti batu kapur, perlahan-lahan diurai oleh air).

Jurang ini mencakup 5,8 mil persegi (15 km persegi), pintu masuknya berukuran panjang 341 kaki (104 m) dan lebar 112 kaki (34 m).

Aliran air yang membentuk Hranice Abyss, dibandingkan dengan bangunan tertinggi di dunia. (Journal of Geophysical Research Earth Surface)

 

Lebar gua bervariasi dari 10 hingga 30 meter. Ilmuwan dari organisasi nirlaba geofisikawan AGU (American Geophysical Union), bahkan ikut menggambarkan bahwa Menara Eiffel hingga Burj Khalifa (829 meter) bisa tenggelam jika diletakkan pada Hranice Abyss.

Dikutip dari Gizmodo, untuk mengukur gua yang tenggelam, Klanica dan rekan-rekannya menerapkan berbagai pendekatan, seperti melakukan pengukuran gravitasi untuk menemukan ruang kosong, menyalakan bahan peledak untuk mengukur pantulan gelombang seismik, dan memeriksa kemampuan batu kapur untuk menghantarkan listrik untuk menemukan celah dan lainnya.

Sebagian besar gua terbentuk dalam proses epigenik (dari atas ke bawah), di mana air permukaan bocor ke bawah melalui batuan yang larut, menciptakan celah yang tumbuh seiring waktu.

Namun, sebagian kecil gua terbentuk dalam proses bottom-up atau hipogenik, di mana air tanah yang bersifat asam merayap ke atas, melarutkan batuan dalam prosesnya.

Awalnya diperkirakan sebagai hipogenik, ternyata justru terbentuk dalam proses epigenik. Para peneliti menemukan bukti dari sistem drainase sebelumnya di batuan dasar kapur, yang menunjukkan asal epigenik.

Air dari pegunungan yang berdekatan tumpah ke cekungan kuno, yang membentuk jurang sehingga mendorong proses epigenik pada Hranice Abyss. Penelitian ini masih akan dilanjutkan mengingat mereka juga perlu mencari tahu tipe organisme seperti apa yang ada di dasar gua air tawar terdalam di dunia.

BACA SELANJUTNYA

Serangan Paus Pembunuh ke Kapal Meningkat, Ilmuwan Masih Kebingungan