Sabtu, 19 September 2020
Dinar Surya Oktarini | Amelia Prisilia : Minggu, 06 September 2020 | 09:15 WIB

Hitekno.com - Fenomena tidak biasa baru saja ditemukan oleh para ilmuwan. Tanpa adanya air, Bulan tiba-tiba berkarat. Mengenai hal ini, para ilmuwan menduga jika Bumi adalah penyebab hal tersebut bisa terjadi.

Bulan yang berkarat ini diketahui usai muncul dalam jurnal Science Advances. Dalam jurnal ini, dari data orbiter Bulan Chandrayaan-1 milik Indian Space Research Organization ditemukan fenomena aneh mengenai Bulan.

Melansir dari Live Science, berdasarkan data tersebut, para ilmuwan menemukan kutub Bulan yang memiliki komposisi yang berbeda dari daerah lainnya. Menurut Shuai Li dari University of Hawaii, komposisi aneh ini adalah hematite.

Komposisi hematite merupakan sejenis oksida besi atau iron oxide yang umumnya dikenal sebagai karat. Fenomena ini dianggap oleh para ilmuwan sebagai hal yang aneh, karena karat biasanya terbentuk akibat adanya air dan oksigen.

Seperti yang diketahui, Bulan tidak memiliki air. Kalaupun ada, kapasitas air di Bulan sungguh sangat sedikit, sedangkan di atmosfer Bulan tidak memiliki oksigen sama sekali.

Ilustrasi Bulan. (pakutaso)

 

Karena fenomena ini dan tidak adanya oksigen dan air, para ilmuwan menduga jika ada variasi mineral lain yang ada di Bulan hingga kemudian dapat menyebabkan karat.

Mengenai hal ini, teori para ilmuwan menyebutkan bahwa kemunculan karat di Bulan ini bisa disebabkan oleh partikel debu yang menghantam Bulan dan memicu munculnya air di permukaan. Air ini yang lalu bercampur dengan besi di permukaan Bulan.

Untuk konsumsi oksigen, kemungkinan karena kondisi Bulan yang dekat dengan Bumi membuat oksigen dapat berpindah ke Bulan. Hal ini diakibatkan oleh medan magnet Bumi yang bisa membawa oksigen berpergian hingga ke Bulan.

Ilustrasi Bulan. (pakutaso)

 

Sayangnya, analisa dan teori satu ini mengenai Bulan yang mendadak berkarat ini hanya merupakan spekulasi. Pasalnya, perlu ada penelitian mendalam mengenai hal tersebut di kemudian hari.

BACA SELANJUTNYA

Serangan Paus Pembunuh ke Kapal Meningkat, Ilmuwan Masih Kebingungan