Senin, 21 September 2020
Agung Pratnyawan : Jum'at, 28 Agustus 2020 | 06:30 WIB

Hitekno.com - Awal mula kehidupan masih menjaid perhatian dan bahasan penelitian para ilmuwan. Terlebih ada dugaan terkait dengan luar angkasa.

Penelitian terbaru dari misi astrologi "Tanpopo", yang berarti dandelion dalam bahasa jepang, menunjukkan bahwa mikroba mungkin dapat melayang di luar angkasa seperti serbuk sari tertiup angin.

Sampel dari genus bakteri resisten yang disebut Deinococcus, yang dapat ditemukan di atmosfer Bumi, telah secara resmi bertahan selama tiga tahun dalam ruang hampa.

Sampel ini tahan terhadap gaya berat mikro, radiasi ultraviolet yang intens, dan suhu ekstrem saat berkendara di luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Penelitian tersebut menambahkan dukungan pada teori panspermia yang kontroversial, yang menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal dari Bumi, tetapi tiba di Bumi dari tempat lain di alam semesta.

Ini akan membutuhkan sel untuk melintasi jarak yang sangat jauh, di bawah beberapa kondisi paling ekstrem dan sebagian orang tetap skeptis terhadap teori tersebut.

Namun, setelah tiga tahun terjebak di luar ISS, butir Deinococcus kering yang lebih tebal dari 0,5 mm, selamat dari putarannya mengelilingi Bumi. Namun, Deinococcus yang berukuran lebih kecil hampir tidak berhasil.

Stasiun luar angkasa. [Shutterstock]

 

Dilihat dari tingkat pembusukan yang ditunjukkan pada sampel, terutama di permukaan, para ilmuwan memperkirakan bahwa butir Deinococcus setebal satu milimeter bisa bertahan, hingga delapan tahun di luar angka atau minimal tiga tahun.

"Hasilnya menunjukkan bahwa radioresistant Deinococcus dapat bertahan selama perjalanan dari Bumi ke Mars dan sebaliknya, yang memakan waktu beberapa bulan atau tahun di orbit terpendek," kata Akihiko Yamagishi, ahli biologi di Universitas Tokyo, seperti dikutip Science Alert, Kamis (26/8/2020).

Penelitian sebelumnya oleh tim yang sama menunjukkan hal ini dimungkinkan terjadi di laboratorium, tetapi ini adalah pertama kalinya bakteri diuji baik di dalam maupun di luar ISS.

Studi lain yang menyimpan spora bakteri Bacillus subtilis di dalam ISS, menunjukkan beberapa bentuk kehidupan mikroskopis dapat bertahan di ruang angkasa hampir enam tahun. Tetapi dengan Deinococcus, para ahli memprediksi itu dapat bertahan hidup di dalam pesawat luar angkasa seperti ISS antara 15 dan 45 tahun.

DNA dari D. radiodurans setebal 100 mm rusak berat oleh UV. Namun, di bagian dalam, itu masih mempertahankan sebagian kecil dari sel yang masih hidup.

"Hasil ini menunjukkan efek perisai yang diberikan lapisan permukaan sel mati yang cukup melindungi sel di bawahnya dari UV," tulis para ahli.

Ilustrasi Bumi. [PIRO4D/Pixabay]

 

Banyak spora bakteri sangat tahan lama dan contoh seperti Bacillus subtilis, dapat tetap tidak aktif selama bertahun-tahun. Ini digunakan untuk membantu membuktikan kelayakan panspermia.

Jika gumpalan spora mirip dengan bakteri yang telah dipelajari manusia sejauh ini dapat mencapai luar angkasa, didistribusikan oleh debu luar angkasa, asteroid, komet, atau meteorit, itu secara teoritis dapat menempuh jarak yang sangat jauh dan bertahan masuk ke atmosfer Bumi.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa bakteri dapat bertahan hidup di luar angkasa ketika dilundungi oleh batu, sebuah konsep yang disebut lithopanspermia.

Tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa spora ini mungkin juga bertahan dengan menggumpal bersama untuk membangun sebuah cara untuk transfer kehidupan antarplanet.

Para ilmuwan masih harus melakukan lebih banyak penelitian untuk dapat memastikan apakah panspermia mungkin terjadi.

Tetapi jika bakteri benar-benar dapat bertahan hidup di ruang antarplanet, Bumi dapat bertindak seperti dandelion yang meniup kehidupan ke luar angkasa. Studi ini sendiri telah dipublikasikan di Frontiers in Microbiology.

Itulah penelitian baru ilmuwan yang menduga awal mula kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).

BACA SELANJUTNYA

Serangan Paus Pembunuh ke Kapal Meningkat, Ilmuwan Masih Kebingungan