Kamis, 01 Oktober 2020
Dinar Surya Oktarini : Kamis, 27 Agustus 2020 | 15:00 WIB

Hitekno.com - David Armstrong dan tim ilmuwan lainnya di Univeristy of Warwick, Inggris memanfaatkann teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk bantu para astronom berburu planet dari teleskop NASA

Teleskop tersebut seperti Transiting Exoplanet Survey Satelite (TESS), NASA untuk mencari tanda penurunan kecerahan yang menunjukkan sesuatu melewati bintang. 

Terkadang tanda itu bisa menjadi planet, asteroid, debu, atau bahkan hanya kesalahan mendeteksi.

Tim ilmuwan membuat algoritme pembelajaran mesin dan melatihnya menggunakan data di planet yang dikonfirmasi dan positif palsu dari misi kepler NASA. Kemudian tim ahli melepaskannya untuk menganalisis sekelompok kandidat planet yang belum dikonfirmasi, juga data dari kepler. Hasil pertama, sistem AI berhasil mengonfirmasi 50 planet dari kumpulan tersebut.

"Algoritma yang kami kembangkan memungkinkan kami membawa 50 kandidat melintasi ambang untuk validasi planet," kata Armstrong, seperti dikutip Cnet, Kamis (27/8/2020).

Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA. [Shutterstock]

Memvalidasi planet dapat membantu ilmuwan mengarahkan sumber dayanya ke tempat-tempat menarik di luar angkasa tanpa membuang-buang waktu mengamati planet "palsu".

Kemampuan untuk mengonfirmasi planet menggunakan metode ini adalah satu langkah maju. Ilmuwan telah menggunakan pembelajaran mesin untuk menentukan peringkat kandidat.

"Daripada mengatakan kandidat mana yang lebih mungkin menjadi planet, kami sekarang dapat mengatakan kemungkinan statistik yang tepat. Di mana terdapat kurang dari 1 persen kemungkinan kandidat menjadi positif palsu, itu dianggap sebagai planet yang divalidasi," tambah Armstrong.

Teknik ini menjanjikan untuk memilah-milah sejumlah besar data yang dihasilkan oleh proyek-proyek, seperti misi PLATO yang direncanakan TESS dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Misi utama TESS sendiri menemukan 66 eksoplanet baru dan 2.100 kandidat.

Meski begitu, menurut Armstrong, para ahli masih harus melaih algoritme. Namun setelah itu akan jauh lebih mudah untuk menerapkan ke kandidat planet mendatang. (Suara.com/Lintang Siltya Utami)

BACA SELANJUTNYA

NASA Temukan Benda Luar Angkasa yang Memasuki Orbit Bumi, Berbahaya?