Kamis, 24 September 2020
Dinar Surya Oktarini : Selasa, 04 Agustus 2020 | 13:43 WIB

Hitekno.com - Mencari batu meteorit  yang berhasil mencapai permukaan Bumi tidaklah mudah, namun peneliti dari Curtin University, Australia berhasil menemukan dua meteorit hanya dalam waktu dua minggu. 

Temuan ini dengan mudah ditemukan dengan bantuan kamera milik Desert Fireball Network (DFN) yang mengamati kapan meteor masuk atmosfer, para ilmuwan dapat memprediksi di mana bagian meteorit yang akan jatuh ke permukaan Bumi.

Tim ahli biasanya mencari meteorit dari Maret hingga Oktober, tetapi musim perburuan harus ditunda karena pandemi virus Corona (Covid-19). Setelah aturan lockdown dilonggarkan, para ilmuwan pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berburu meteorit.

Astronom bernama Dr Hadrien Devillepoix dan ahli geologi planet Dr Anthony Lagain, mengunjungi daerah dekat Madura di Australia Barat untuk mengintai dengan drone dan secara mengejutkan, menemukan satu batu ruang angkasa dalam perjalanan kembali ke mobil.

"Saya pikir Anthony mempermainkan saya dengan menanam salah satu meteorit palsu yang kami gunakan untuk sesi pelatihan drone. Tetapi setelah diperiksa lebih dekat, terbukti bahwa batu 2,4 kilogram yang kita temukan itu ternyata memang meteorit," kata Dr Devillepoix, seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (4/8/2020).

Berkat DFN, para ilmuwan dapat menemukan batu ruang angkasa dan mengetahui orbitnya sebelum menghantam Bumi. Batuan tersebut dikonfirmasi sebagai bagian dari keluarga Aten yang melintasi orbit Bumi, tetapi sering menghabiskan waktunya lebih dekat ke orbit Venus.

Lokasi penemuan meteor di dekat Madura, Australia Barat. [Curtin University]

Batuan kedua ditemukan dua minggu kemudian, ketika Dr Martin Towner memimpin tim beranggotakan enam orang untuk mencari meteorit yang jatuh pada 18 November 2019. Lokasi potensial jatuhnya meteorit tersebut diperkirakan di sekitar bandara North-West of Forrest, di tengah Nullarbor Plain, Australia.

Para ilmuwan berhasil menemukan batu ruang angkasa seberat 300 gram setelah melakukan pencarian selama empat jam. Para ahli memperkirakan bahwa itu berasal dari bagian tengah sabuk asteroid utama.

Kini tim sedang menganalisis batuan ini untuk dipelajari lebih lanjut. (Suara.com/Lintang Siltya Utami)

BACA SELANJUTNYA

Konten Digital Berpotensi Sebabkan Bencana Informasi, Kok Bisa?