Minggu, 09 Agustus 2020
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Senin, 13 Juli 2020 | 21:00 WIB

Hitekno.com - Sebuah fenomena mengenai Planet Sembilan atau Planet Nine memang menjadi misteri tersendiri di kalangan ilmuwan. Dalam penelitian terbaru, salah seorang ilmuwan ini berpendapat bahwa kemungkinan Planet Sembilan bukanlah planet sebenarnya melainkan lubang hitam kecil.

Namun hipotesa di atas masih harus dibuktikan melalui teleskop canggih pada tahun depan.

Astronom Harvard bernama Avi Loeb dan Amir Siraj telah mengusulkan strategi baru untuk mendeteksi lubang hitam seukuran "jeruk" di Tata Surya luar.

Penelitian mereka telah diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters.

Alasan untuk berpikir bahwa lubang hitam mungkin bersembunyi di pinggir luar Tata Surya kita berkaitan dengan satu set pengamatan astronomi yang cukup rumit untuk dijelaskan.

Ilustrasi lubang hitam. (Pixabay/ David Mark)

 

Sesuatu (yang belum diketahui secara persis oleh ilmuwan), tampaknya mempengaruhi sekelompok objek di luar orbit Neptunus.

Penjelasan yang mungkin adalah itu merupakan planet yang tidak terdeteksi, dijuluki Planet Sembilan, dengan massa antara 5 hingga 10 kali massa Bumi.

Sesuatu tersebut berada dalam orbit memanjang antara 400 hingga 800 AU dari Matahari (1 AU adalah jarak rata-rata dari Bumi ke Matahari).

Baru-baru ini ilmuwan mengajukan kemungkinan lain yaitu sesuatu di atas merupakan sebuah lubang hitam purba dengan massa serupa.

Loeb menjelaskan bahwa lubang hitam primordial bertanggung jawab atas apa yang oleh para ilmuwan dianggap sebagai materi gelap di alam semesta.

Ilustrasi sebuah komet yang tersedot lubang hitam. (Press Release Harvard University/ M Weiss)

 

Lubang hitam yang dihipotesiskan akan menyedot sesekali objek awan Oort, yaitu komet.

Sama seperti sifat lubang hitam secara umum, lubang hitam purba itu akan menyedot apa saja di sekitar mereka, tulis Loeb dalam pernyataan resminya.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa jika Planet 9 adalah lubang hitam, maka komet yang berada di pinggiran tata surya (yang disebut awan Oort) akan berdampak padanya, dihancurkan oleh gelombang gravitasi yang kuat, dan menghasilkan suar saat mengembang," kata Loeb dikutip dari Gizmodo.

Jika komet cukup besar, maka itu seharusnya bisa dideteksi oleh Legacy Survey of Space and Time (LSST), yang akan dmulai beroperasi tahun depan di Observatorium Rubin.

Teleskop itu sangat ideal karena memiliki bidang pandang yang cukup besar.

"Jika Planet 9 adalah lubang hitam, kami memperkirakan akan melihat setidaknya beberapa penampakan suar sekitar setahun setelah LSST mulai mengamati langit," kata Loeb menambahkan.

Hipotesa dari ilmuwan Harvard di atas mengenai lubang hitam di pinggir Tata Surya bisa terbukti jika teleskop canggih tersebut menangkap beberapa suar di lokasi yang diamati.

BACA SELANJUTNYA

Astronom Temukan Struktur Bintang Kuno, Hasil Terkoyak Bimasakti