Sabtu, 04 Juli 2020
Agung Pratnyawan : Selasa, 02 Juni 2020 | 06:44 WIB

Hitekno.com - SpaceX telah sukses mengantarkan dua astronot NASA mencapai stasiun antariksa internasional (ISS). Namun Rusia malah mengaku heran kenapa Amerika Serikat bisa begitu girangnya.

Pada Minggu (31/5/2020), Rusia mengaku heran melihat betapa girangnya AS melihat dua astronot NASA berhasil mencapai ISS. Keduanya berhasil mencapai ISS berkat roket dan kapsul buatan SpaceX milik Elon Musk.

Pada Sabtu (30/5/2020) SpaceX mencatat sejarah sebagai perusahaan swasta pertama di dunia yang berhasil mengirim manusia ke luar angkasa.

Sebelumnya astronot-astonot, termasuk astronot NASA dari AS, harus menumpang roket dan kapsul Soyuz milik Rusia untuk bisa ke ISS.

Karena ketergantungan pada Rusia itu, maka Dmitry Rogozin, kepala badan antariksa Rusia (Roscosmos) pernah berkelakar bahwa AS pada satu hari kelak mungkin akan memaksa agar "para astronot pergi ke ISS menggunakan trampolin".

Setelah SpaceX, yang menggunakan roket Falcon 9 dan kapsul Crew Dragon, berhasil mengudara pada Sabtu sore waktu Florida, AS.

"Trampolinnya berhasil," celetuk Elon Musk dalam jumpa pers bersama Administrator NASA, Jim Bridenstine. Ia dan Bridenstine tertawa.

Dua astronot NASA sampai di ISS dengan disambut tiga crew yang sudah berada di sana. (International Space Station)

 

"Ini lelucon internal," imbuh Musk seperti dilansir dari Phys.org.

Rusia: apanya yang keren?

Rogozin sendiri tetap diam sampai Minggu kemarin. Ia baru bersuara ketika Crew Dragon, yang berisi dua astronot NASA, berhasil bersandar di ISS.

"Kini sudah aman untuk menyampaikan selamat atas suksesnya peluncuran dan bersandarnya (Crew Dragon). Tolong sampaikan ucapan selamat saya yang tulis untuk Elon Musk (saya suka leluconnya) dan tim SpaceX. Siap untuk bekerja sama di masa depan," tulis Rogozin di Twitter.

Pada 2014, Rogozin yang menjabat sebagai deputi Perdana Menteri, pernah mengolok-olok AS yang ketika itu tak memiliki program untuk mengirim astronot ke luar angkasa.

Sindiran itu disampaikan setelah AS menjatuhkan sejumlah sanksi atas Rusia, termasuk ke beberapa industri luar angkasanya.

Meski Rogozin mengucapkan selamat, tetapi Roscosmos mengungkapkan pihaknya heran dengan kegembiraan warga hingga Presiden AS, Donald Trump.

"Kami tidak mengerti melihat histeria yang dipicu oleh kesuksesan peluncuran Crew Dragon. Apa yang seharusnya terjadi dahulu kala, akhirnya terjadi," kata juru bicara Roscosmos, Vladimir Ustimenko, mengutip sebagian dari kata-kata Trump sendiri.

Siapkan roket baru

Roket SpaceX Falcon 9. (SpaceX)

 

Donald Trump, dalam peluncuran itu, mengatakan bahwa Amerika akan menjadi negara pertama yang mendaratkan manusia ke Mars, setelah kembali mengirim astronot ke Bulan pada 2024.

"Perempuan Amerika akan menjadi yang pertama yang mendarat di Bulan dan Amerika Serikat akan menjadi negara pertama yang mendarat di Mars. Kami tidak akan menjadi yang kedua di mana pun juga," cetus Donald Trump.

Rusia, di sisi lain, mengatakan tidak akan tinggal diam.

"Tahun ini kami akan menggelar uji coba dua roket baru dan melanjutkan program misi ke bulan mulai tahun depan," cuit Ustimenko di Twitter.

Ustimenko tidak menjabarkan program itu lebih lanjut. Tapi Rogozin pernah mengatakan bahwa Rusia berniat menggelar uji peluncuran roket Angara jelang akhir 2020.

Rogozin juga mengatakan bahwa Rusia terus mengembangkan rudah balistik antarbenua bernama Sarmat atau yang oleh NATO disebut Satan 2.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada 2018 juga pernah bilang, Sarmat adalah salah satu senjata baru Rusia yang bisa membuat pertahanan NATO terlihat usang.

Rugi

Peluncuran roket Soyuz saat membawa kru pertama kali di tahun 2006. (NASA_Bill Ingalls)

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia memang memonopoli perjalanan ke ISS karena ia adalah satu-satunya negara yang bisa membawa astronot ke dan dari stasiun antariksa tersebut berbekal kapsul Soyuz. Satu kursi di Soyuz, harganya sekitar 80 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,1 triliun.

Amerika sendiri, sejak program pesawat ulang-alik berakhir di 2011, selalu mengandalkan roket dan kapsul Rusia untuk pergi dan pulang dari ISS. Kini, Amerika sudah punya SpaceX.

Roscosmos sendiri menilai bahwa Amerika masih akan membutuhkan Rusia.

"Penting untuk memiliki setidaknya dua kemungkinan agar bisa sampai ke ISS. Karena kita tidak akan pernah tahu...," kata Ustimenko.

Program luar angkasa Rusia sendiri adalah yang pertama yang mengirim manusia ke luar angkasa pada 1961. Rusia, atau lebih tepatnya Uni Soviet, juga menjadi yang pertama yang mengirim satelit ke orbit pada 1965.

Tetapi sejak Uni Soviet runtuh pada 1991, program antariksa Rusia mengalami kemunduran akibat korupsi, skandal, dan beberapa pesawat antariksa serta satelit mahal dalam tahun-tahun terakhir ini. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

BACA SELANJUTNYA

Peluncuran Robot Penjelajah Mars Baru NASA Kembali Diundur