Rabu, 15 Juli 2020
Agung Pratnyawan : Rabu, 27 Mei 2020 | 08:45 WIB

Hitekno.com - Hari Sabtu (27/5/2006) pagi gempa berkekuatan Magnitudo 6,4 mengguncang Jogja dan sekitarnya. Bagi masyarakat, Gempa Jogja 2006 ini masih tersimpan dalam ingatannya.

Gempa Jogja 2006 yang berlangsung sekitar 57 detik itu tak hanya merobohkan ratusan bangunan, tetapi juga menewaskan ribuan orang.

Gempa yang berpusat di Bantul di kedalaman sekira 10 km tersebut tercatat telah merenggut sebanyak 5.800 jiwa. Peristiwa memilukan tersebut pun jadi tragedi terparah yang pernah terjadi di Jogja.

Dua tahun berselang, gempa berkekuatan serupa dengan kedalaman 10 km juga terjadi di Jepang, pusatnya di Suruga Bay. Satu orang meninggal dalam peristiwa tersebut.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono pun memberikan ulasannya.

Dalam cuitan di akun Twitternya, peneliti BMKG tersebut menyebut hal yang membedakan dari kedua peristiwa serupa tersebut tak lain persoalan manajemen mitigasinya.

Berdasarkan analisisnya, banyaknya korban jiwa ketika terjadi Gempa Jogja 2006 silam itu dikarenakan konstruksi bangunan yang tak siap. Ia menyebut mayoritas rumah di Jogja ketika itu tidak dirancang tahan gempa.

Peneliti BMKG, Daryono menjelaskan penyebab gempa Jogja banyak menelan korban jiwa. [@DaryonoBMKG / Twitter]

 

"Rumah kita saat itu tidak tahan gempa," terangnya saat menanggapi komentar netizen terkait perbedaan Gempa Jogja 2006 dengan di Jepang.

Lebih jauh ia menyebut bahwa di Jepang sudah sejak lama menerapkan mitigasi struktural terkait konstruksi bangunan. Mereka sadar betul bahwa mereka hidup di atas lempengan bumi yang rentan terhadap terjadinya gempa.

"Struktur bangunan di Jepang sudah tahan gempa. Mereka sudah lakukan mitigasi struktural," ujarnya.

Sementara itu netizen lainnya menambahkan bahwa pusat Gempa Jogja 2006 kala itu terjadi di darat, di sesar opak daerah Kecamatan Pleret, Bantul.

Tidak ada yang menduga itu gempa bumi tektonik karena gunung Merapi juga sedang aktif. Semua tertuju dan menduga itu gempa vulkanik dari Merapi.

"Ada dusun yang hampir sebagian besar rumah bangunannya rata dengan tanah terutama dekat sumber gempa. Ada juga dusun-dusun lain banyak korban jiwa bahkan yang jauh dari sumber gempa, karena jalur urat getarannya pas di jalur gelombang gempa," tulis @AbeeGlory.

Itulah kata peneliti BMKG pada Gempa Jogja 2006 yang menelan banyak korban jiwa dan material. (SuaraJogja.id/ Galih Priatmojo).

BACA SELANJUTNYA

Catat Waktunya, 13 Daerah di Jateng Bisa Saksikan Gerhana Matahari Cincin