Minggu, 29 November 2020

Usaha Menutup Lubang Ozon Malah Timbulkan Masalah Lingkungan Lainnya

Penggunaan bahan kimia yang menyebabkan penipisan lapisan ozon, yang dikenal sebagai CFC dapat memicu perubahan sirkulasi atmosfer.

Dinar Surya Oktarini
cloud_download Baca offline
Penampakan siang dan malam dari luar angkasa. (twitter/Astro_Christina)
Penampakan siang dan malam dari luar angkasa. (twitter/Astro_Christina)

Hitekno.com - Diperkenalkan pada awal 1990-an, penelitian memperkenalkan senyawa terbaru untuk menggantikn bahan kimia yang menipiskan lapisan ozon. Dapat juga menyebabkan akumulasi bahan kimia jahat lainnya yang bertahan di lingkungan tanpa batas. 

Di masa lalu, penggunaan bahan kimia yang menyebabkan penipisan lapisan ozon, yang dikenal sebagai chlorofluorocarbon (CFC) dapat memicu perubahan sirkulasi atmosfer.

Sejak 2000, para ahli menemukan bahwa perubahan itu mulai berhenti dan bahkan mungkin berbalik karena Protokol Montreal, yang bertujuan melarang manusia menggunakan zat CFC yang dinilai bisa merusak lapisan ozon. Meski begitu, penelitian baru ini menunjukkan peraturan itu memiliki beberapa konsekuensi.

Bahan kimia yang dimaksud adalah asam rantai pendek perfluoroalkyl carboxylic acids (scPFCAs), yang merupakan kelas bahan kimia buatan manusia yang digunakan dalam aplikasi elektronik, pemrosesan industri, konstruksi, dan pendingin udara.

Itu termasuk dalam kelompok zat polyfluoroalkyl yang lebih luas, yang dikenal sebagai PFAS atau "bahan kimia selamanya" karena kegigihannya yang telah dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk kanker.

Dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, para ilmuwan dari York University dan Environment and Climate Change Canada baru-baru ini menemukan keberadaan scPFCA yang tumbuh dalam ekosistem saat ini dengan melihat sampel inti es yang diambil dari Kutub Utara.

Kutub Utara. [Shutterstock]
Kutub Utara. [Shutterstock]

"Inti-inti es dapat berguna karena itu berfungsi sebagai kapsul waktu dan memberikan catatan kontaminasi. Dengan demikian, itu adalah satu-satunya cara kita dapat memahami tren ini," ucap Cora Young, asisten profesor dan ahli kimia lingkungan di York University, seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (19/5/2020).

Bahan kimia yang ditemukan itu tidak rusak di lingkungan dan pasti berakhir di jaringan manusia. Penelitian ini menegaskan bahwa bahan kimia ditandai oleh resistensi terhadap degradasi lingkungan dan berpotensi dampak buruk pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Young menjelaskan bahwa bahan kimia itu menumpuk di tanaman, termasuk yang dikonsumsi manusia. Sayangnya, masih sangat sedikit yang diketahui tentang potensi bahaya manusia dan ekologis senyawa ini sehingga penelitian lebih lanjut harus dilakukan.(Suara.com/ Lintang Siltya Utami)

Terkait

Terkini