Sabtu, 05 Desember 2020

Terawetkan dari Zaman Es, Ilmuwan Menemukan Fosil Kukang Raksasa

Kukang raksasa ini diyakini hidup pada 2,6 juta tahun lalu.

Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta
cloud_download Baca offline
Ilustrasi fosil kukang raksasa. (YouTube/ Epic Wildlife)
Ilustrasi fosil kukang raksasa. (YouTube/ Epic Wildlife)

Hitekno.com - Ilmuwan baru saja menemukan "makam Zaman Es" yang mengandung sekitar 22 fosil kukang raksasa (giant sloth) yang terawetkan dalam kotorannya sendiri. Generasi kukang raksasa diprediksi punah karena kematian massal di sebuah rawa.

Berdasarkan penelitian, ilmuwan meyakini bahwa kukang raksasa mati setelah berkumpul di rawa yang dangkal dan kekurangan oksigen selama masa Zaman Es terakhir.

Pada masa Pleistosen akhir, sebuah kelompok hewan multigenerasi dari setidaknya 22 sloth darat raksasa (Eremotherium laurillardi) entah bagaimana mati dan kemudian terawetkan dalam keabadian pada suatu tempat.

Daerah itu berada di sepanjang pantai barat daya Ekuador yang dikenal sebagai Tanque Loma, yang termasuk situs legendaris Rancho La Brea.

Meski sekarang telah punah, kukang raksasa adalah hal umum yang bisa ditemui di Kuarter Dunia Baru, era yang mencakup sekitar 2,6 juta tahun terakhir.

Penemuan mengenai fosil kukang raksasa. (Press Relase NHMLAC/ Martin Tomasz)
Penemuan mengenai fosil kukang raksasa. (Press Relase NHMLAC/ Martin Tomasz)

 

Dikutip dari IFLScience, Eremotherium merupakan genus kukang darat raksasa yang telah punah dari famili Megatheriidae, hewan endemik di Amerika Utara dan Amerika Selatan selama Zaman Es.

Salah satu kerabat dari Eremotherium laurillardi, Eremotherium rusconi, bahkan bisa mencapai panjang hingga 6 meter dengan berat 3 ton.

Tubuh dari kukang raksasa bahkan bisa mencapai rata-rata sepanjang tiga hingga lima meter.

Itu sangat besar jika dibandingkan ukuran rata-rata panjang tubuh kukang modern yang hanya 30 sentimeter.

Diterbitkan di jurnal Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology, kuburan kukang raksasa ditemukan di tempat yang dikenal sebagai situs asphaltic.

Spesies kukang modern. (Pixabay/ Free-Photos)
Spesies kukang modern. (Pixabay/ Free-Photos)

 

Sebagai referensi, flora dan fauna purba telah ditemukan di pada banyak situs asphaltic yang juga dikenal sebagai lubang tar.

Aspal yang merembes secara alami berfungsi sebagai pengawet in-situ, melestarikan tulang dan material lainnya.

"Lubang-lubang tar sangat menarik, dan Rancho La Brea mungkin adalah situs fosil paling terkenal di dunia, tetapi, meskipun sudah lebih dari satu abad penelitian, kami belajar bahwa kami baru saja sampai di permukaannya," kata seorang peneliti bernama Dr Emily Lindsey.

Dalam press relase yang diterbitkan oleh Natural History Museums of Los Angeles County (NHMLAC), kita bisa melihat fosil kukang raksasa dalam keadaan sangat baik ketika terawetkan sejak jutaan tahun lalu.

Puluhan kukang raksasa yang mati dalam satu lubang diprediksi bahwa mereka berkumpul dalam sebuah tempat yang biasanya dijadikan sebagai sumber air untuk minum,

Namun ada juga kemungkinan lain yaitu mereka berkumpul ketika kukang raksasa bersama-sama menghindari peristiwa geologis seperti letusan gunung berapi atau banjir.

Terkait

Terkini