Jum'at, 04 Desember 2020

AI Dapat Terjemahkan Sinyal Otak Menjadi Teks, Capai Akurasi 97 Persen

Penelitian yang dilakukan ahli bedah saraf Edward Chang dari Chang Lab UCSF ini menggunakan metode baru untuk memecahkan kode electrocorticogram.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Ilustrasi teknologi AI. (Pixabay)
Ilustrasi teknologi AI. (Pixabay)

Hitekno.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin berkembang pesat. Bahkan paling baru, ilmuwan kembangkan teknologi AI untuk menerjemahkan sinyal otak manusia.

Teknologi AI ini bisa menerjemahkan sinyal otak manusia menjadi teks secara utuh dengan tingkat akurasi tinggi. Dan tetap bisa menerjemahkan tanpa mendengar kata tunggal yang diucapkan.

Penelitian yang dilakukan ahli bedah saraf Edward Chang dari Chang Lab UCSF ini menggunakan metode baru untuk memecahkan kode electrocorticogram, jenis pemantauan elektrofisiologis menggunakan elektroda yang ditempatkan langsung, pada permukaan otak terpapar untuk merekam aktivitas listrik dari korteks serebral.

Penelitian tersebut melibatkan empat pasien epilepsi yang mengenakan implan untuk memantau kejang yang disebabkan oleh kondisi medis.

Tim UCSF melakukan eksperimen dengan meminta pasien membaca dan mengulangi sejumlah kalimat dengan keras, sementara elektroda mencatat aktivitas otak pasien selama latihan.

Ilustrasi teknologi AI. (Pixabay)
Ilustrasi teknologi AI. (Pixabay)

 

Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam jaringan saraf yang menganalisis pola dalam aktivitas otak yang sesuai dengan tanda bicara tertentu, seperti vokal, konsonan, atau gerakan mulut.

Jaringan saraf lain mendekodekan representasi ini dan menggunakannya untuk mencoba memprediksi apa yang dikatakan.

Tak hanya itu, sistem juga menghasilkan tingkat kesalahan kata (WER) dengan satu pasien hanya 3 persen dalam menerjemahkan sinyal otak menjadi teks.

Dalam penelitian yang diterbitkan di Nature Neuroscience, para ahli merincikan beberapa contoh kalimat referensi yang dikatakan para pasien, bersama dengan kata prediksi yang dihasilkan sistem.

Meski tingkat kekeliruan hanya 3 persen, secara keseluruhan sistem ini dapat menjadi tolak ukur baru untuk penguraian aktivitas otak berbasis AI.

Dilansir laman Science Alert, Kamis (16/4/2020), penelitian di masa depan memungkinkan penggunaan AI seperti ini sebagai dasar prosthesis bicara, untuk membantu pasien yang kehilangan kemampuan atau kekuatan berbicara.

Itulah pengembangan teknologi AI oleh ilmuwan yang bisa membaca sinyal otak untuk diterjemahkan menjadi teks. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).

Terkait

Terkini