Selasa, 26 Mei 2020
Dinar Surya Oktarini : Selasa, 14 April 2020 | 16:54 WIB

Hitekno.com - Pada akhir April dan awal Mei 2020 nnti astronom menyebutkan akan ada fenomena langit yang menarik yang bisa diamati, yaitu komet C/2019 Y4 atau dikenal juga sebagai komet ATLAS.

ATLAS sendiri merupakan akronim untuk Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System, sebuah penelitian berbasis di Hawaii yang difokuskan untuk mendeteksi benda-benda kecil di dekat Bumi, beberapa minggu sebelum benda langit itu berdampak pada Bumi.

Namun, dalam sebuah konsensus pengamatan yang diambil dari Comet Observations Database menyebutkan bahwa setelah mencapai magnitudo +8 ketika melintasi orbit Mars, komet ATLAS semakin redup dalam beberapa hari terakhir ini dengan magnitudo yang terus meningkat menjadi +8,8 hingga +9,2, di mana semakin besar angka magnitudo maka semakin redup objek langit tersebut.

Menurut Quanzhi Ye, seorang astronom di Universitas Maryland, dan astronom Qicheng Zhang dari Caltech di Astronomers Telegram, komet ATLAS kemungkinan mengalami disintegrasi atau pecah. Hal itu terlihat berkat pengamatan melalui Ningbo Education Xinjiang Telescope (NEXT).

NEXT mengabadikan citra komet ATLAS yang memiliki pseudo-nukleus atau nukleus baru yang belum terkonfirmasi berukuran sekitar 3 detik busur panjangnya yang terletak di dekat ekor komet. Menurut astronom, keberadaan nukleus tersebut yang membuat komet ATLAS meredup.

Meski begitu, hal ini bukanlah sesuatu yang langka pada komet. Dilansir laman Sky and Telescope, Selasa (14/4/2020), nukleus komet sering diartikan bahwa komet tersebut sedang menuju kehancuran. Pecahnya komet disebabkan tak lain karena komposisi objek itu sendiri.

Dikutip laman Space.com, komet merupakan objek es sehingga ketika terkena sinar Matahari, komet akan dengan cepat menguap. Penguapan tersebut akan membuat rotasi komet menjadi lebih cepat dan menjadi penyebab komet bisa pecah.

Ilustrasi komet. (Pixabay)

 

Pakar komet terkenal John Bortle menyebutkan dengan meredupnya komet ATLAS, kemungkinan besar komet tersebut bisa pecah ketika tiba di sekitar Matahari pada akhir Mei.

Namun, para pengamat tidak bisa memperkirakan dengan pasti apakah komet ATLAS bisa diamati dari Bumi dengan mata telanjang pada akhir April atau tidak, mengingat komet adalah benda langit yang terkenal tidak dapat diprediksi.

Jika mengikuti kurva cahaya yang diprediksi pakar komet Jepang Seiichi Yoshida yang diunggah di situs web Visual Comets in the Future, komet ATLAS mungkin akan samar-samar terlihat oleh mata telanjang pada akhir April atau awal Mei. Sementara para pertengahan Mei, jika tidak pecah, komet itu akan seterang bintang Polaris.(Suara.com/Lintang Siltya Utami)