Selasa, 26 Mei 2020
Agung Pratnyawan : Jum'at, 10 April 2020 | 06:30 WIB

Hitekno.com - Pada 2019 silam, para astronom terkesima dengan kemunculan komet Atlas yang melesat di langit dengan cahaya terangnya. Bahkan disebut sama terangnya dengan Venus dan Bulan.

Namun sayangnya, menurut terakhir menunjukkan bahwa komet Atlas tersebut mungkin sudah hancur duluan sebelum melintasi Bumi lagi.

Komet Atlas atau C/2019 Y4 adalah sebuah komet yang pertama kali terdeteksi oleh teleskop Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System (ATLAS) yang berlokasi di Hawaii pada 28 Desember 2019.

ATLAS sendiri merupakan teleskop khusus yang dirancang untuk mendeteksi asteroid atau objek antariksa lainnya yang berpotensi menabrak Bumi dalam waktu sangat dekat (dua pekan sampai dua hari sebelum objek menghantam Bumi).

Saat pertama kali ditemukan, Atlas terlihat sangat redup. Tetapi seiring waktu, sinarnya semakin cemerlang. Bahkan dari Desember 2019 sampai 17 Maret lalu, cahayanya bertambah 27.500 kali.

Ilustrasi komet di langit malam (Shutterstock).

 

Alhasil para astronom memperkirakan bahwa Komet Atlas akan bersinar dengan spektakuler di langit. Diperkirakan bahwa pada 31 Mei nanti, ketika mencapai titik terdekatnya dengan Matahari, sinar komet Atlas akan seterang Venus bahkan Bulan.

Tetapi beberapa waktu belakangan para astronom kecewa karena komet Atlas juga semakin redup alih-alih makin cemerlang. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa komet itu sudah pecah atau hancur.

"Kami melaporkan bahwa ada kemungkinan komet C/2019 Y4 (Atlas) sudah pecah," tulis Quanzhi Ye, astronom dari Universitas Maryland, AS dan Qicheng Zhang, astronom dari California Institute of Technology.

Dalam pengamatan mereka, nukleus komet itu sudah pecah dan itu terlihat dari hasil foto teleskop yang menunjukkan pola memanjang pada inti komet.

Para ilmuwan kemudian mengingatkan bahwa komet adalah objek yang terkenal unik dan tak bisa diprediksi. Ketika mereka mendekati Matahari, panas dan radiasi bisa merusak permukaan komet yang biasanya dilapisi es sehingga ia kehilangan sinarnya.

Komet sendiri sering disebut bintang berekor karena saat panas dan radiasi Matahari menerpa, lapisan es pada permukannya mencair dan melepaskan partikel debu. Partikel-partikel debu itulah yang terlihat seperti ekor dari Bumi.

Itulah laporan terbaru para astronom mengenai kemungkinan kondisi terkini dari komet Atlas. (Suara.com/ Liberty Jemadu).