Selasa, 02 Juni 2020
Dinar Surya Oktarini | Amelia Prisilia : Kamis, 09 April 2020 | 20:30 WIB

Hitekno.com - Hutan bawah laut berusia 60 ribu tahun yang ditemukan para ilmuwan belum lama ini cukup mengejutkan. Hutan purba ini disebut-sebut bisa menjadi obat baru untuk kebutuhan medis.

Penemuan hutan bawah laut berusia 60 ribu tahun ini merupakan hutan pohon cemara yang tumbuh di tepi sungai yang tidak jauh dari Teluk Meksiko.

Saat pohon-pohon hutan tersebut menua, seluruh pohon tumbang dan masuk ke sungai kemudian terkubur di bawah endapan dalam waktu yang cukup lama. Seiring berjalannya waktu, permukaan laut yang naik membuat seluruh hutan ikut menghilang.

Mengutip CNN, tim ilmuwan dari Northeastern University dan University of Utah yang pertama kali melakukan ekspedisi dengan menyelam ke perairan tersebut dan menemukan potongan batang pohon yang lalu dipelajari.

Terkubur lama, hutan bawah laut yang berusia 60 ribu tahun ini membuat penglihatan para ilmuwan yang menyelam ke dekatnya menjadi buram karena endapan tanah. Selain itu, ancaman hiu juga membahayakan nyawa para ilmuwan.

Ilustrasi hutan. (Unsplash/Linda Söndergaard)

 

Berusia 60 ribu tahun, kondisi batang pohon tersebut begitu terawat karena terkubur dalam lapisan sedimen yang mencegah oksigen mempengaruhi proses pembusukkan.

Seluruh bentuk batang pohon tersebut nampak seperti pohon biasa di daratan. Seluruh warna batang pohon ini masih begitu terlihat jelas. Batang pohon ini juga menjadi rumah bagi 300 organisme.

Salah satunya yang ditemukan dari batang pohon hutan bawah laut berusia 60 ribu tahun ini mirip Shipworms pada umumnya. Namun, bakteri dari Shipworms ini justru belum pernah ditemui oleh para ilmuwan.

Ilustrasi hutan. (Pixabay/12019)

 

Setidaknya ada 100 jenis bakteri baru dan 12 di antaranya menjalani sekuensing DNA untuk mengevaluasi potensi sebagai obat baru. Seperti yang diketahui, Shipworms dikenal mampu menghasilkan bakteri yang dapat dioleh menjadi antibiotik.

Tidak dapat dipungkiri, jika uji coba bakteri baru ini dapat menimbulkan kemunculan obat baru, maka hutan bawah laut berusia 60 ribu tahun ini perlu diteliti lebih lanjut.

BACA SELANJUTNYA

Gletser di Alaska Mencair, Ilmuwan Prediksi Bisa Picu Tsunami