Selasa, 07 April 2020

CEK FAKTA: Hujan Hitam di Jepang Bukan Pembakaran Jenazah Maupun Nuklir

Warga Jepang setempat mendadak heboh dengan hujan berwarna hitam. Yang ternyata berasal dari kebakaran pabrik.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Heboh Hujan Berwarna Hitam. (Twitter/ hiro10or)
Heboh Hujan Berwarna Hitam. (Twitter/ hiro10or)

Hitekno.com - Beragam postingan di media sosial mengklaim terjadi hujan berwarna hitam di Jepang. Hujan yang disebut dengan Black Rain ini disebutkan membuat heboh masyarakat setempat. Yang ternyata hasil dari kebakaran pabrik.

Kemunculan Black Rain ini juga diikuti dengan munculnya sejumlah teori konspirasi dan spekulasi di kalangan netizen. Para netizen Jepang ramai membahas kemunculan spekulasi dan teori konspirasi hujan berwarna hitam yang menghebohkan media sosial ini.

Spekulasi dan teori konspirasi yang muncul mulai dari kejatuhan nuklir, polusi, hingga tubuh korban virus Corona (COVID-19) yang dibakar. 

Mayoritas laporan Black Rain datang dari Kota Hasuda, tetapi daerah yang terkena dampak lainnya termasuk Ageo, Iwatsuki dan Kuki, serta Saitama. Foto-foto penampakan hujan hitam itu beredar di Twitter pada 2 Maret dengan tagar #blackrain.

Ternyata terori hujan hitam karena pembakaran jenazah korban virus corona tidaklah benar. Karena didapati fakta warna hitam ini berasal dari abu kebakaran pabrik di Noda, Prefektur Chiba.

Fenomena hujan hitam di Jepang. [Twitter]
Fenomena hujan hitam di Jepang. [Twitter]

 

Dikutip laman SoraNews24, para pejabat mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menyelidiju situasi tersebut setelah mendapat keluhan dari warga tentang genangan hitam di mana-mana.

Black Rain dianggap sebagai pertanda buruk yang sangat serius di Jepang sejak serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Pada Perang Dunia II, Amerika Serikat meluncurkan dan menjatuhkan bom atom pertama di dunia di Hiroshima pada Agustus 1945.

Bom kedua dijatuhkan di Nagasaki pada tiga hari kemudian. Insiden pertama menewaskan 120 ribu orang. Beberapa zat radioaktif melesat ke atmosfer dan menyebabkan "Black Rain" di seluruh area serangan nuklir.

Meski begitu, tidak ada laporan aktivitas nuklir yang ditemukan di Saitama. Hal itu pun mengembangkan spekulasi lain. Beberapa orang menyebut bahwa hujan hitam datang dari rudal nuklir Korea Utara yang diluncurkan hari itu.

Spekulasi hujan hitam dari nuklir Korea Utara juga tidak benar. Karena didapati fakta warna hitam ini berasal dari abu kebakaran pabrik di Noda, Prefektur Chiba.

Fenomena hujan hitam di Jepang. [Twitter]
Fenomena hujan hitam di Jepang. [Twitter]

 

Namun ada seorang Youtuber yang menemukan adanya kebakaran di saat hujan berwarna hitam ini terjadi. Diduga warna hitam ini berasal dari abu kebakaran tersebut.

Masyarakat juga mengakatan bahwa itu mungkin berasal dari kebakaran di sebuah pabrik di Noda, Prefektur Chiba, di mana pencampuran asap dengan pewarna bisa menyebabkan warna hitam.

Dilansir laman Tech Times, sebagian orang juga berpikir bahwa itu mungkin ada hubungannya dengan virus Corona (COVID-19).

Pemerintah Jepang dicurigai telah membakar tubuh korban secara diam-diam dan menyebabkan warna hujan menjadi hitam.

Namun didapati fakta warna hitam ini berasal dari abu kebakaran pabrik di Noda, Prefektur Chiba. TIdak ada hubungannya dengan pembakaran jenazah korban virus corona.

Itulah kehebohan netizen di media sosial membahas teori konspirasi dari hujan berwarna hitam di Jepang ini. Yang ternyata berasal dari abu kebakaran pabrik di Noda, Prefektur Chiba. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).

Penjelasan

Artikel dalam SoraNews24 yang jadi rujukan di atas telah menambahkan fakta baru asal muasal warna hitam di hujan tersebut. Yakni dari kebakaran pabrik di Noda, Prefektur Chiba. Bisa dilihat lewat link ini.

Fakta kebakara pabrik ini didapatkan dari video YouTube yang mendokumentasikan kebakaran pabrik saat ada laporan hujan berwarna hitam ini.

Kesimpulan:

Hujan berwarna hitam di Jepang ini bukan berasal dari abu pembakaran jenazah korban virus corona. Bukan juga dari aktivitas nuklir Korea Utara. Melainkan dari abu kebakaran pabrik di Noda, Prefektur Chiba.

Koreksi (Pembaruan per 3 April 2020):

Artikel ini telah dikoreksi dan diperbarui, terutama demi meluruskan fakta-faktanya. Termasuk dengan mengubah/memperbaiki judul & sebagian gambarnya, juga tambahan/penjelesan di bagian isi. Mohon maaf atas kekeliruan sebelumnya dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan.

Terkait

Terkini