Minggu, 29 Maret 2020

Ditolak RS, Satu Keluarga Terinfeksi Virus Corona Meninggal di Rumah

Virus corona menyisakan kisah pilu warga China yang berjuang menghadapinya.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta
cloud_download Baca offline
Ilustrasi virus corona. (Shutterstock)
Ilustrasi virus corona. (Shutterstock)

Hitekno.com - Virus corona (Covid-19) yang masih mewabah di China menyisakan beberapa cerita tragis mengenai pasien yang berjuang melawan virus tersebut. Empat orang yang masih satu anggota keluarga ini harus meninggal setelah menjalani "karantina rumah" sesuai kebijakan pihak berwenang di Hubei, China.

Virus corona yang menginfeksi lebih dari 70 ribu orang di China, terutama di Provinsi Hubei, membuat rumah sakit di daerah itu kehabisan stok tempat tidur untuk pasien.

Menurut laporan dari Strait Times yang bersumber pada media China Caixin Global, seorang sutradara terkenal di Hubei Film Studios telah meninggal pada tanggal 14 Februari 2020.

Kabar kematiannya membuat pilu kerabat dan temannya di London yang menerima surat terakhir kondisi keluarga sutradara bernama Chang Kai tersebut.

Chang Kai meninggal di umur 55 tahun karena pneumonia yang dikarenakan terinfeksi virus corona.

Data korban virus corona per tanggal 20 Februari 2020. (JHU CSSE)
Data korban virus corona per tanggal 20 Februari 2020. (JHU CSSE)

 

Ayah, ibu, dan kakak perempuannya juga meninggal karena penyakit yang sama pada periode antara tanggal 28 Januari hingga 14 Februari 2020.

Kisah kematian mereka semakin membuat jelas bagaimana pihak berwenang di Hubei yang telah kurang tepat dalam memberlakukan aturan "karantina rumah".

Dikutip dari World of Buzz, ayah dari Chang Kai melaporkan gejala awal pada 25 Januari 2020.

Chang membawa sang ayah ke beberapa rumah sakit di Wuhan tetapi ditolak karena kekurangan tempat tidur.

Kondisi salah satu rumah sakit di Wuhan yang penuh dengan kerumunan orang. (SCMP)
Kondisi salah satu rumah sakit di Wuhan yang penuh dengan kerumunan orang. (SCMP)

 

Tiga hari kemudian, sang ayah meninggal saat dikarantina di dalam rumah.

Tak lama setelah itu, sang ibu juga tertular penyakit sama dan meninggal pada 2 Februari 2020.

Pada 14 Februari 2020, Chang meninggal hanya beberapa jam setelah virus tersebut merenggut nyawa kakak perempuannya.

Saat ini, istri Chang yang juga terinfeksi virus corona dalam kondisi kritis.

Tidak efektifnya "karantina rumah" membuat pihak berwenang di Hubei, China sudah mengakhiri kebijakan ini.

Wujud virus corona. (credit: NIAID-RML)
Wujud virus corona. (credit: NIAID-RML)

 

Padahal saat itu, ahli epidemiologi China bernama Zhong Nanshan sudah angkat bicara bahwa kebijakan "karantina rumah" sangat berbahaya.

"Sangat berbahaya bagi rumah sakit dengan tempat yang tidak memadai mengirim orang yang didiagnosis dengan virus atau masih terduga ke rumah masing-masing," kata Nanshan.

Profesor Chen Bo dari Huazhong University of Science and Technology juga menjelaskan bahwa kebijakan "karantina rumah" sangat berisiko tinggi.

"Karantina rumah dapat memicu kelompok infeksi lintas rumah tangga dan lintas komunitas. Itu menyebabkan lebih banyak kematian dengan membiarkan infeksi serius berkembang tanpa pengobatan," kata Chen Bo.

Kini kebijakan karantina rumah digantikan oleh pihak berwenang di Hubei dengan memilah pasien ke dalam ruangan khusus yang terdiri dalam kasus yang dikonfirmasi (virus corona), orang yang menderita demam, dan orang dengan kontak khusus kepada pasien virus corona tapi belum menunjukkan gejala.

Terkait

Terkini