Sabtu, 29 Februari 2020

Klaim Kepala Lembaga Eijkman, Indonesia Punya Alat Deteksi Virus Corona

Sebelumnya Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan Indonesia belum memiliki reagen untuk mendeteksi virus Corona.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Ilustrasi virus corona. (Shutterstock)
Ilustrasi virus corona. (Shutterstock)

Hitekno.com - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menyampaikan kalau laboratorium-laboratorium medis di Indonesia telah memiliki alat untuk mendiagnosis virus Corona.

Disebutkan kalau alat ini mampu dengan cepat mendiagnosis orang yang terjangkit virus Corona dari Wuhan, China.

Sebelumnya Amin, seperti dikutip media-media Australia pada 31 Januari lalu, mengatakan Indonesia belum memiliki reagen untuk mendeteksi virus Corona pada orang yang diduga terinfeksi virus mematikan dari Wuhan, Provinsi Hubei, China itu.

Reagen adalah bahan yang digunakan dalam reaksi kimia untuk menganalisis dan mendeteksi adanya virus dalam darah.

"Alat sudah cukup, reagennya sudah ada, jadi pemberitaan di luar itu tidak benar," kata Amin saat ditemui di Kantor Staf Presiden (KSP) Jakarta, Kamis (6/1/2020).

Amin menyampaikan hal tersebut seusai menghadiri rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pariwisata Wishnutama, Menteri Sosial Juliari Batubara, Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro.

Menurut Amin, ada dua alat yang dipakai untuk mendeteksi virus Corona, yaitu Polymerase Chain Reaction atau PCR dan sequencing.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Subandriyo. (Suara.com/Ria Rizki)
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Subandriyo. (Suara.com/Ria Rizki)

 

PCR digunakan untuk melihat apakah keluarga dari virus corona terdapat di dalam tubuh pasien sedangkan sequencing untuk memastikan apakah itu virus merupakan corona atau bukan.

"Yang punya alatnya juga cukup banyak, bukan hanya lab perguruan tinggi tapi juga pihak swasta. Tapi swasta kan tidak rutin pemeriksaan untuk virus Corona. Yang saya tahu saat ini yang memeriksa adalah litbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kementerian Kesehatan dan kedua di Lembaga Eijkman," tambah Amin,

Menurut Amin, lembaga Eijkman sudah berpengalaman dalam mendeteksi virus jenis lain yang sebelumnya sudah diisolasi. Deteksi virus corona tersebutdapat dilakukan selama beberapa jam saja.

"Kami mendapatkan contoh itu bukan virusnya tapi bagian DNA-nya saja. Jadi yang dikerjakan di lab kami sudah divalidasi dan sudah diuji kontrol positifnya betul, kontrol negatifnya juga betul. Jadi insyaallah hasil yg kami berikan itu mewakili. Kalau memang tidak ada ya tidak ada," jelas Amin.

Menurut Amin, sampel DNA tersebut berasal dari usap hidung atau tenggorokan dari orang yang diduga memiliki virus corona.

"Pemeriksaan di lab beberapa jam. Tapi biasanya dilakukan validasi kemudian dicek ulang untuk memastikan apakah itu betul negatif atau betul positif. Kadang-kadang harus mengulangi lagi, tapi kalau prosesnya 4-5 jam sudah selesai," tutup Amin.

Itulah pengungkapan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio yang menyebutkan Indonesia memiliki alat deteksi virus corona. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Terkait

Terkini