Senin, 24 Februari 2020

Temukan Planet Baru di Tata Surya, Ilmuwan Terkejut Karena Hal Ini

Bukan satu, ilmuwan menemukan tiga planet sekaligus yang berukuran mirip dengan Jupiter.

Agung Pratnyawan | Amelia Prisilia
cloud_download Baca offline
Ilustrasi galaksi. (pixabay/skeeze)
Ilustrasi galaksi. (pixabay/skeeze)

Hitekno.com - Para ilmuwan baru-baru ini menemukan beberapa planet baru di tata surya. Menambah ilmu pengetahuan dalam dunia tata surya, penemuan ini justru membuat ilmuwan terkejut dan heran.

Planet baru yang ditemukan ini masuk dalam kategori planet dengan tekstur yang sangat ringan layaknya permen kapas. Hal ini yang lalu membuat ilmuwan terkejut. Pasalnya tekstur satu ini terbilang baru.

Dilansir dari CNN, kategori ini jelas saja merupakan hal yang jarang ditemui oleh ilmuwan dari seluruh planet di tata surya. Sebelumnya, planet-planet hanya terdiri dari kategori berbatu, planet kerdil, hingga planet es.

Bukan satu, ilmuwan menemukan tiga planet sekaligus yang berukuran mirip dengan Jupiter. Planet ini diketahui telah mengorbit sebuah bintang sejauh kurang lebih 2.600 tahun cahaya.

Seperti yang diketahui, planet Jupiter dikenal dengan ukurannya yang besar. Uniknya, planet terbaru ini justru memiliki massa yang kurang dari satu persen.

Ilustrasi galaksi di alam semesta. (Pixabay)
Ilustrasi galaksi di alam semesta. (Pixabay)

 

Ketiga planet baru super ringan ini diketahui mengorbit bintang Kepler 51. Bukan baru, planet ini pertama kali ditemukan pada 2012 lalu. Ukuran kepadatannya yang super ringan diketahui pada 2014.

Saat itu yang menemukan planet baru ini adalah Teleskop Luar Angkasa Hubble. Penelitian terus dilakukan untuk mengetahui mengenai bagaimana atmosfer ketiga planet baru tersebut.

Sejauh ini dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble, ilmuwan baru bisa mengamati spektrum panjang gelombang elektromagnetik dari bintang saat ketiga planet ringan ini melintasinya.

Ilustrasi galaksi. (pixabay/theartofsounds2001)
Ilustrasi galaksi. (pixabay/theartofsounds2001)

 

Hasil penelitian menjelaskan bahwa molekul yang ada telah memblokir panjang gelombang. Garis spektrum tersebut yang lalu digunakan untuk menyimpulkan komposisi kimia di atmosfer. Spektrum ini lah yang digunakan untuk mengetahui atmosfer yang ada.

Penelitian selanjutnya lalu dilakukan dengan menggunakan simulasi komputer demi memahami kondisi atmosfer yang tercipta. Sejauh ini, alasan planet baru tersebut super ringan dan mirip permen kapas karena kandungan hidrogen dan helium dan lapisan metana.

Terkait

Terkini