Sabtu, 14 Desember 2019

Banjir Darah, Lumba-lumba Dibantai Pemburu di Perairan Ini

Pecinta hewan sangat miris melihat pembantaian lumba-lumba yang menciptakan banjir darah ini.

Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta
Ilustrasi lumba-lumba yang dibantai. (Dolphin Project)
Ilustrasi lumba-lumba yang dibantai. (Dolphin Project)

Hitekno.com - Lumba-lumba dikenal sebagai hewan mamalia air yang bersahabat dengan manusia serta memiliki otak yang cerdas. Sebuah pemandangan memilukan mengenai banjir darah di sebuah perairan ini membuat pecinta hewan khususnya penyuka lumba-lumba akan sedih setengah mati.

Sebuah drone berhasil merekam aktivitas pemburu lumba-lumba yang memojokkan mereka di suatu tempat kemudian membantai mereka secara masal.

Aktivis yang tergabung dalam organisasi non-profit, Dolphin Project, mengunggah video yang membuat penggemar lumba-lumba sangat sedih ke situs resmi serta media sosial mereka.

Bagaimana tidak, rekaman menunjukkan perahu-perahu yang memojokkan kawanan lumba-lumba di sebuah perairan untuk membantainya.

Dolphin Project merupakan sebuah organisasi yang peduli dengan kelestarian lumba-lumba dan selalu menggalang dana untuk memastikan lumba-lumba terawat dengan baik.

Lumba-lumba akan dipojokkan dan dibantai dari atas perahu. (Dolphin Project)
Lumba-lumba akan dipojokkan dan dibantai dari atas perahu. (Dolphin Project)

 

Para relawan yang tergabung dalam Dolphin Project melakukan perjalanan ke Taiji, 420 kilometer barat daya Tokyo, Jepang.

Secara diam-diam, mereka merekam perburuan lumba-lumba tahunan yang sangat mengerikan.

Di sebuah tempat yang mereka beri nama dengan The Cove, aktivis menemukan hewan-hewan malang tersebut dipojokkan dan kemudian dibantai.

Dilansir dari Yahoo News Australia, founder sekaligus direktur Dolphin Project, Lincoln O’Barry menjelaskan bahwa para aktivis melakukan streaming serta perekaman langsung dari jarak jauh menggunakan ponsel dan drone milik mereka.

Aktivis memotret diam-diam aksi perburuan lumba-lumba ilegal. (Dolphin Project)
Aktivis memotret diam-diam aksi perburuan dan pembantaian lumba-lumba ilegal. (Dolphin Project)

 

"Sangat memilukan melihat ini, dan itu terjadi enam bulan dalam setahun, setiap hari," kata O’Barry.

Para pemburu yang terlatih tampaknya memotong sirip dan punggung lumba-lumba setelah mereka menyelam dan memojokkannya.

Menurut laporan dari The Dodo, pembantaian lumba-lumba di Taiji ada kaitannya dengan nilai komersial pada hewan itu.

Harga daging dan sirip dalam satu ekor lumba-lumba bisa mencapai 8 ribu dolar AS atau Rp 112 juta sementara lumba-lumba terlatih yang diperjualbelikan mencapai 20 ribu dolar AS atau Rp 280 juta.

International Marine Animal Trainer’s Association (IMATA) mengecam keras pembantaian lumba-lumba yang mengakibatkan banjir darah ini sehingga mereka dan aktivis lainnya akan berusaha membawa masalah tersebut ke lembaga berwenang internasional.

Terkait

Terkini