Sabtu, 19 Oktober 2019

Miris, Ini Penampakan Kebakaran Hutan Kalimantan dari Satelit NASA

Kebakaran hutan di Kalimantan membuat kualitas udara daerah sekitarnya semakin buruk.

Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta
cover_caption
Ilustrasi kebakaran hutan. (Twitter/ setkabgoid)

Hitekno.com - Setelah netizen Malaysia heboh membahas kebakaran hutan di Kalimantan pada hari Senin (09/09/2019), kini giliran netizen Indonesia yang ramai membahasnya. Tak hanya kebakaran di Kalimantan, netizen Indonesia juga mengeluhkan buruknya kualitas udara di Riau, Pekanbaru dan daerah sekitarnya sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Pada hari ini (14/09/2019) hahstag IndonesiaDaruratAsap menempati trending topik urutan pertama pada pukul 12.00 WIB.

Sebanyak lebih dari 10 ribu cuitan netizen ramai mengeluhkan kondisi udara yang buruk karena kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan atau kabut asap di Riau, Pekanbaru dan daerah sekitarnya.

Sebelumnya, sebuah thread dari netizen Malaysia dengan akun bernama @sunfloweraidil menjadi viral di Twitter setelah mendapatkan lebih dari 11 Ribu Like dan 25 ribu Retweet.

Postingan yang diunggah menampakkan pendapatnya dan disertai tampilan kebakaran hutan dari satelit NASA.

Hashtag Indonesia Darurat Asap memuncaki trending topic di Twitter regional Indonesia. (Trends24.in)
Hashtag Indonesia Darurat Asap memuncaki trending topic di Twitter regional Indonesia. (Trends24.in)

 

Thread tersebut memicu banyak kemarahan terutama dari netizen yang tinggal di Semenanjung Malaysia dan Sarawak Barat.

Setelah ditelusuri di situs resmi NASA Worldview, memang terlihat asap yang begitu pekat mengalir di beberapa daerah terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan pada tanggal 5 hingga 7 September 2019.

Thread menujukkan kekesalan dari netizen Malaysia atas limpahan kabut asap dari Indonesia. (Twitter/ sunfloweraidil)
Thread menujukkan kekesalan dari netizen Malaysia atas limpahan kabut asap dari Indonesia. (Twitter/ sunfloweraidil)

 

Penampakan kabut asap di Kalimantan dari satelit NASA terlihat agak mereda pada rentang 7 hingga 11 September 2019. Namun pada tanggal 12 September hingga 14 September titik kabut asap justru makin banyak dan pekat.

Pada perilisan resmi BMKG pada hari Jumat (13/09/2019) titik panas yang tercatat pada tanggal 12 September 2019 terjadi di beberapa wilayah.

Kebakaran hutan Kalimantan terlihat dari satelit NASA. (NASA Worldview)
Kebakaran hutan Kalimantan terlihat dari satelit NASA. (NASA Worldview)

 

Titik panas di Sumatera terpantau ada 1.231 titik, di Kalimantan ada 1.865 titik, di Semenanjung Malaysia 412 titik, dan Sarawak-Sabah ada 216 titik.

Laporan dari media The Maritime Executive, Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau NEA (National Environment Agency) telah mengidentifikasi hampir 1.300 titik panas atau kebakaran yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera.

Kebakaran hutan dilihat dari dekat. (NASA World View)
Kebakaran hutan dilihat dari dekat. (NASA World View)

 

Berdasarkan pemantauan dari Air Visual, beberapa daerah di Indonesia seperti KLHK Palangkaraya, Kualakapuas (Kalimantan Tengah), Riau, Senapelan (Pekanbaru), dan KLHK Pekanbaru memiliki indeks kualitas udara yang membahayakan.

Beberapa daerah yang disebutkan di atas bahkan ada memiliki indeks US AQI di atas 400 atau masuk kategori Hazardous.

Data tampilan kualitas udara pada beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimanta. (Air Visual)
Data tampilan kualitas udara pada beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimanta. (Air Visual)

 

Pada tingkat 300 hingga 500 US AQI, kondisi udara sangat berbahaya bagi masyarakat umum atau orang-orang yang sensitif karena bisa menimbulkan iritasi atau dampak kesehatan yang menimbulkan penyakit paru-paru.

Karena kondisi di atas, banyak hahstag IndonesiaDaruratAsap dalam menyikapi kebakaran hutan pada beberapa daerah di Kalimantan atau Sumatera.

Terkait

Terkini