Selasa, 17 September 2019

Antisipasi, Tanjung Lesung Bangun 12 Radar Pendeteksi Tsunami Jarak 200 Km

Pihak BWJ selaku pengelola Tanjung Lesung mendatangkan radar oseanografi itu dari Jerman dengan nama WERA (Wave Radar).

Agung Pratnyawan
cover_caption
Bupati Pandeglang, Irna Narulita, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Cikadu, Pandeglang, Banten, Jumat (16/8/2019). [Suara.com/ Arief Apriadi]

Hitekno.com - Pasca tertimpa tsunami pada 22 Desember 2018, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung terus berbenah. Paling baru, telah dibangun radar pendeteksi tsunami di wilayah ini.

Direktur Operasional PT Banten West Java (BWJ) Kunto Wijoyo mengatakan, pihaknya akan membangun sebanyak 12 radar pendeteksi tsunami yang berlokasi di bibir pantai Tanjung Lesung, Cikadu, Pandeglang, Banten.

Kualitas radar pendeteksi tsunami yang digunakan KEK Tanjung Lesung itu, disebut Kunto tak main-main.

Melalui PT Terindo, pihak BWJ selaku pengelola Tanjung Lesung mendatangkan radar oseanografi itu dari Jerman dengan nama WERA (Wave Radar).

"Kalau kita lihat di sana (pinggir pantai), itu ada bangunan dua lantai. Itu adalah shelter untuk radar WERA anti tsunami dari Jerman. Radar seperti itu baru pertama kali ada di Indonesia," ujar Kunto Wijoyo.

Kunto mengatakan bahwa saat ini pembangunan Radar WERA tengah berlangsung. Ia memprediksi sekitar dua minggu ke depan 12 tiang radar yang dibangun bisa segera selesai.

"Dua minggu lagi baru selesai. Nanti ada 12 tiang radar, semua mengarah ke laut dengan perimeter 200 km. Bayangkan jarak dari sini ke Gunung Krakatau saja hanya 60 kilometer. Ini 200 kilometer," beber Kunto.

Bangunan untuk radar pendeteksi tsunami bernama WERA yang tengah dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Cikadu, Pandeglang, Banten, Jumat (16/8/2019). [Suara.com/ Arief Apriadi]
Bangunan untuk radar pendeteksi tsunami bernama WERA yang tengah dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Cikadu, Pandeglang, Banten, Jumat (16/8/2019). [Suara.com/ Arief Apriadi]

 

Lebih jauh, Kunto menjelaskan bila pihak BWJ tak hanya mengadakan radar WERA untuk mengantisipasi bencana alam tsunami di KEK Tanjung Lesung ke depannya.

BWJ, kata Kunto, juga turut merancang Prosedur Operasi Standar atau SOP bagi para pegawainya untuk bisa mengoperasikan radar WERA tersebut, agar manfaat yang diambil bisa seefektif mungkin.

"Secara teknis kita bakukan dalam bentuk SOP. Nanti siapa yang punya kewenangan menghidupkan sinyal dan lain-lain," beber Kunto.

"Sebab, apa yang direkam radar ini semuanya juga masuk ke Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)," pungkasnya.

Selain membangun alat untuk mengantisipasi tsunami, pihak Pemerintah Daerah (Pemda) Pandeglang juga turut membangun shelter bencana di kawasan Panimbang. Nantinya, shelter tersebut digunakan sebagai lokasi berlindung warga bila musibah tsunami menerjang.

"Kami sedang mengusulkan shelter tsunami di Panimbang. Karena kontur tanah di sana datar. Harapannya, 2020 atau 2021 tempat itu sudah dibangun," tutur Bupati Pandeglang, Irna Narulita. 

Dengan adanya radar pendeteksi tsunami ini, Tanjung Lesung bisa mengantisipasi lebih dini dari bencana alam tersebut. (Suara.com/ Arief Apriadi).

Terkait

Terkini