Rabu, 21 Agustus 2019

Ngeri, Ini Deretan Jasad Abadi yang Ada di Gunung Everest

Nomor 5 paling mengerikan.

Dinar Surya Oktarini | Amelia Prisilia
cover_caption
Gunung Everest. (unsplash/howling red)

Hitekno.com - Bagi seorang pendaki, mendaki Gunung Everest adalah sebuah goals dalam karir pendakiannya. Gunung tertinggi di dunia ini memang menjadi primadona bagi para pendaki. Sayangnya, selain menyimpan kisah manis para pendaki, Gunung Everest juga menyimpan banyak jasad abadi yang sukses buat siapa saja merinding dan ngeri.

Sebagai gunung tertinggi di dunia, tidak bisa dipungkiri bahwa Gunung Everest menjadi salah satu daerah yang menantang bagi siapa saja yang menyebut dirinya petualang.

Medan yang sulit dan susah digapai ini rupanya memakan banyak korban. Tidak jarang, banyak pendaki yang ditemukan meninggal dalam usahanya mencapai puncak Gunung Everest.

Beberapa jasad abadi lalu ditemukan di balik salju berwarna putih yang menyelimuti puncak Gunung Everest ini. Dilansir dari All Thats Interesting, berikut tim HiTekno rangkum beberapa jasad abadi dengan segala kisah pilunya.

1. George Mallory

Gunung Everest. (unsplash/Christopher Burns)
Gunung Everest. (unsplash/Christopher Burns)

 

George Mallory bersama Sandy Irvine diketahui mendaki Gunung Everest pada tahun 1924. Kedua pendaki ini diketahui hilang dan tidak pernah kembali.

Tubuhnya George Mallory dan Sandy Irvine baru ditemukan pada tahun 1999 dengan pakaian mendaki yang lengkap. Sayangnya, hingga kini tubuh Sandy Irvine masih belum ditemukan.

Jika pada tahun 1924 George Mallory dan Sandy Irvine mampu bertahan, maka kedua orang ini dapat menjadi yang pertama yang menyentuh puncak Gunung Everest.

2. Tsewang Paljor

Tsewang Paljor mendaki Gunung Everest pada Mei 1996. Pada 11 Mei 1996, Tsewang Paljor bertemu dengan badai salju. Namun, dirinya dan dua rekan tim sukses mencapai puncak.

Dalam perjalan turun dari pendakian tersebut, Tsewang Paljor memilih beristirahat di sebuah gua, Sayangnya, ia malah ditemukan meninggal karena kedinginan.

Masih mengenakan baju lengkap, jasad Tsewang Paljor disebut sebagai ''Green Boots''. Jasad abadi ini hingga kini dijadikan sebagai penunjuk jalan untuk beberapa pendaki yang tersesat saat mendaki Gunung Everest.

3. Francys Arsentiev

Pada tahun 1998, Francys Arsentiev sukses mencapai puncak Gunung Everest tanpa bantuan oksigen tambahan. Sayangnya, dalam perjalanan turun, dirinya terpisah dari sang suami. Tepat pada 24 Mei 1998, Francys Arsentiev ditemukan oleh pendaki Ian Woodall dan Cathy O'Dowd.

Gunung Everest di Himalaya. (Pixabay/ Simon)
Gunung Everest. (Pixabay/Simon)

 

Francys Arsentiev yang kedinginan dan kelelahan sempat meminta bantuan dari pasangan yang tidak bisa membantu apa-apa ini. Kata-kata terakhir Francys Arsentiev sebelum akhirnya meninggal dunia adalah ''Jangan biarkan aku mati di sini.''

Pasangan ini lalu meninggalkan Francys Arsentiev hingga menjadi jasad abadi di Gunung Everest.

4. Hannelore Schmatz dan Ray Genet

Dua pria asal Jerman, Hannelore Schmatz dan Ray Genet melakukan pendakian ke Gunung Everest pada 1979. Dalam perjalan turun, keduanya memutuskan untuk bermalam dalam kantong tidur tanpa penutup kepala.

Siapa sangka, usai mengalami badai salju, Ray meninggal karena hipotermia dan Hannelore mengalami kelelahan usai berjalan jauh sejauh 330 kaki dari perkemahan tersebut. Jasad Hannelore Schmatz ditemukan tengah tertidur di tebalnya salju Gunung Everest.

5. The Rainbow Valley

Gunung Everest. (unsplash/Kalle Kortelainen)
Gunung Everest. (unsplash/Kalle Kortelainen)

 

The Rainbow Valley memang bukan nama seorang pendaki. The Rainbow Valley merupakan sebutan untuk sebuah tempat yang terletak di ketinggian 7.925 meter Gunung Everest.

Tempat ini menjadi kuburan massal terbesar di dunia karena menampung berbagai pendaki yang meninggal dalam misi mendaki gunung tertinggi di dunia ini.

Lokasi ini disebut The Rainbow Valley karena dipenuhi jasad para pendaki yang mengenakan jaket berwarna cerah yang mirip pelangi.

Jasad abadi di Gunung Everest bukan sengaja ditinggalkan begitu saja. Karena medan yang sulit dan kondisi cuaca yang ekstrem membuat sangat sulit dan membutuhkan biaya yang mahal untuk melakukan evakuasi jasad-jasad ini.

Namun, ada tim ekspedisi yang secara khusus dan rutin memeriksa dan menutupi jasad abadi di Gunung Everest ini agar dapat beristirahat dengan tenang.

Terkait

Terkini