Sabtu, 08 Agustus 2020
Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta : Selasa, 18 September 2018 | 08:00 WIB

Hitekno.com - Beberapa bulan terakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan. Di balik peningkatan aktivitasnya, ternyata gunung Anak Krakatau menyimpan fakta unik.

Gunung Anak Krakatau tercatat masih mengeluarkan lava pijar sehingga wisatawan dihimbau tidak mendekat. Letusan terbanyak dengan total sebanyak 745 kali letusan terjadi pada 30 Juni 2018.

Sementara letusan terbanyak kedua terjadi pada tanggal 18 Agustus 2018 dengan total letusan sebanyak 576 kali.

Dikutip dari Suara.com, Gunung Anak Krakatau berstatus Waspada sejak tanggal 26 Januari 2012 sampai sekarang. Radius zona berbahaya ada di dalam radius 2 km.

Berikut lima fakta unik Gunung Anak Krakatau yang jarang diketahui orang:

1. Terbentuk dari Ledakan Terkuat

Ilustrasi letusan Krakatau. (Wikipedia)

 

Gunung Anak Krakatau terbentuk dari salah satu ledakan terkuat yang pernah ada dalam sejarah yang dikenal dengan ledakan Gunung Krakatau. Gunung itu meledak pada tanggal 23 Agustus 1883.

Ledakannya setara dengan 3.000 bom atom Hiroshima atau 26 kali lebih kuat dari bom hidrogen terkuat saat ini.

Tsunami setinggi 100 kaki atau 30,5 meter langsung tercipta setelah ledakan terjadi. Ledakan Gunung Krakatau melemparkan batu apung sejauh 5.331 kilometer 10 hari kemudian. Korban yang tewas mencapai 36.489 orang dan ledakan itu berhasil menghilangkan 165 desa serta hampir menghancurkan 132 desa lainnya.

2. Nyaris tak ada kehidupan setelah ledakan di sekitar Pulau Krakatau.

Gunung Krakatau. (AwesomeStories)

 

Pulau di sekitar Krakatau benar-benar steril dari kehidupan setelah ledakan super besar. Daerah hutan hujan yang lebat digantikan dengan dengan tanah tandus yang sangat kering.

Di beberapa tempat, abu menumpuk setebal 200 kaki. Pada tahun 1884, salah satu pulau Krakatau yang bernama Rakata hanya ditemukan satu laba-laba mikroskopis.

Beberapa tahun kemudian tanda kehidupan baru satu per satu datang seperti ganggang biru dan pakis yang berkecambah dari spora yang terbawa angin. Baru pada tahun 1888 seekor kadal terlihat menempati daerah sekitar ledakan.

3. Butuh waktu lama untuk pulih.

Gunung Krakatau. (Global Volcanism Program)

 

Setelah ledakan, kondisi Krakatau harus pulih dalam jangka waktu yang lama. Setelah 40 tahun dari ledakan super besar, daerah sekitar Krakatau dihuni oleh 600 spesies hewan termasuk tokek, ular piton, dan ular kawat.

Ular piton menempati pulau pertama kali dengan berenang sementara ular kawat terbawa ke pulau melalui kayu yang hanyut.

Tikus dan tokek kemungkinan datang bersama manusia. Pada tahun 1930 hutan hujan tropis menyelimuti hampir seluruh pulau.

4. Pernah hilang beberapa kali.

Gunung anak Krakatau erupsi. (BPNP)

 

Gunung Anak Krakatau adalah gunung berapi kecil yang sangat aktif dan muncul dari laut sebagai akibat dari ledakan sisa-sisa Gunung Krakatau. Gunung Anak Krakatau sempat menghilang sebanyak lima kali sebelum ia memantapkan diri sebagai pulau permanen pada tahun 1930.

Saat ini Gunung Anak Krakatau mempunyai ketingggian 230 meter di atas permukaan laut. Ketinggian gunung menurun drastis dari induknya (Gunung Krakatau) yang memiliki tinggi 813 meter.


5. Sangat aktif dan terus tumbuh.

Gunung anak Krakatau erupsi tahun 2009 diamati dari Pulau Rakata. (SwissEduc)

 

Sebenarnya Gunung Anak Krakatau telah sangat aktif sejak tahun 1972 namun sejarah juga mencatat masih banyak kapal wisata yang membawa orang mendekatinya.

Gunung ini juga susah diprediksi sehingga wisatawan disana dihimbau untuk sangat berhati-hati. Bahkan ketika situasi sangat tenang sekalipun, Gunung Anak Krakatau bisa langsung meletus dan mengeluarkan bom lava.

Gunung ini terus tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan 0,5 meter per bulan (secara vertikal). Setiap tahun, Anak Gunung Krakatau menjadi lebih tinggi sekitar 6 meter dan lebih lebar 12 meter.

Fakta unik pertumbuhan Gunung Anak Krakatau semakin membuat peneliti sangat tertarik meneliti gunung ini.

BACA SELANJUTNYA

Gunung Merapi Kembali Erupsi, Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan Abu