Kamis, 21 Januari 2021

Kisah Pilu Dibalik Penemuan Teknologi Black Box

Black Box menjadi kunci dan membantu penyelidikan jika terjadi kecelakaan pesawat.

Dinar Surya Oktarini
cloud_download Baca offline
Ilustrasi Black Box. (Shutterstock)
Ilustrasi Black Box. (Shutterstock)

Hitekno.com - Setiap pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, pihak maskapai selalu berupaya mencari Black Box untuk menganalisa jatuhnya sebuah pesawat, salah satunya yang belum lama terjadi Sriwijaya Air SJ- 182.

Selain menyusuri serpihan pesawat dan korban, petugas gabungan Basarnas, TNI AL dan relawan juga berfokus mencari Black Box.

Dilansir dari laman Suara.com, Komandan Satuan Tugas Laut (Dansatgasla) Operasi SAR Sriwijaya Air Laksamana Pertama Yayan Sofyan menjelaskan, pencarian kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ 182 mengerucut di lima titik lokasi di perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Pihak Basarnas menyebut bahwa mereka telah menemukan posisi Black Box.

Namun kotak yang berisi datat penting penerbangan itu belum diangkat dari dasar laut. Pihak Basarnas menyatakan sinyal kuat Black Box Sriwijaya Air sudah terpantau.

Kotak hitam yang tidak berwarna hitam. (Wikipedia Commons/Meggar)
Kotak hitam yang tidak berwarna hitam. (Wikipedia Commons/Meggar)

 

Black Box sendiri merupakan bisa menjadi kunci penyebab terjadi kecelakaan pada pesawat terbang.

Teknologi Black Box sendiri merupakan alat yang mencatat kondisi penerbangan yang sebenarnya termasuk ketinggian, kecepatan udara, heading, percepatan vertikal, dan pitch pesawat.

Tak hanya itu, Black Box juga merupakan alat perekam suara kokpit (CVR) merekam transmisi radio dan suara di kokpit, seperti suara pilot dan suara mesin.

Teknologi Black Box sendiri ditemukan oleh seorang ilmuwan asal Australia, Dr. David Ronald de Mey Warren.

Dikutip dari laman Meyer West IP, David pertama kali membuat Black Box karena teringat kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya, Reverend Hubert Warren pada 1934 lalu.

Menurut David Ronald de Mey Warren alat perekaman seperti Black Box ini sangat penting untuk penyelidikan saat terjadi kecelakaann pesawat.

Tak seperti namanya, Black Box didesain berwarna merah terang atau oranye dengan berat 4,5 kg. Hal ini bertujuan agar perangkat ini lebih mudah ditemukan oleh tim penyelamat.

Ilustrasi Black Box. (Shutterstock)
Ilustrasi Black Box. (Shutterstock)

 

Dibungkus dengan titanium dan baja, Black Box ini diklaim tak mudah hancur, bahkan di suhu 1.100 derajat Celcius sekalipun.

Black Box memiliki dua komponen yaitu, Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

FDR adalah komponen yang berfungsi merekam data penerbangan selama 25 jam, seperti kompas, arah dan hal-hal teknis lainnya.

Sedangkan CVR berfungsi merekam percakapan di dalam kokpit pesawat antara pilot dan kopilot. Tak hanya itu CVR juga bisa merekam beragam suara di dalam kokpit seperti suara alam, mesin hingga kursi.

Black Box sendiri hingga kini terus ditingkatkan dan mendapatkan kemampuan tambahan, seperti suar pelacak. Hal ini bertujuan jika terjadi kecelakaan pesawat di air, maka Black Box akan mengirimkan suar yang memancarkan sinyal hingga 30 hari.

Itulah tadi awal mula Black Box ditemukan hingga cara kerjanya. Dengan adanya kecanggihan tersebut, Black Box bisa memberikan titik terang pada penyelidikan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Terkait

Terkini