Kamis, 26 November 2020

Twitter Bekukan Ribuan Akun Drakula, Diduga Sebar Propaganda Pro-China

Hampir 3.000 akun Twitter telah dibekukan karena diduga mendorong propaganda politik pro-China.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Ilustrasi Twitter. (Pixabay/ edar)
Ilustrasi Twitter. (Pixabay/ edar)

Hitekno.com - Twitter telah menangguhkan atau membekukan ribuan akun yang terhubung ke botnet Drakula. Platform media sosial ini nampak rutin untuk melakukan bersih-bersih.

Hampir 3.000 akun Twitter yang dibekukan tersebut terhubung ke botnet Drakula dan mendorong propaganda politik pro-China.

Jaringan akun Twitter palsu ini pertama kali ditandai oleh Graphika, sebuah grup riset media sosial. Akun botnet tersebut dinamai "Drakula" karena setiap akun menggunakan kutipan dari novel Bram Stoker, penulis novel Drakula yang meluncur pada 1897 lalu.

Graphika mengklaim, operasi tersebut hanya berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 akun yang dibuat hanya dalam waktu sekitar sebulan saja.

Sementara itu, analis dari Atlantic Council's Digital Forensic Research Lab (DFRLab) Ben Nimmo mengatakan, media sosial berlogo burung biru itu sudah menghapus hampir 3.000 akun Drakula per 20 Agustus lalu.

Ilustrasi akun Twitter. [Shutterstock]
Ilustrasi akun Twitter. [Shutterstock]

 

Nimmo melanjutkan, Twitter telah menghapus sebagian besar akun "Drakula" dan membatasi orang lain untuk memosting konten baru. Namun, tidak jelas apakah botnet ditangguhkan oleh algoritma Twitter atau raksasa media sosial itu campur tangan secara manual.

"Amplifikasi itu tidak mungkin menjangkau pengguna aslinya, tetapi mereka bisa mengurangi cuitan yang memungkinkan akun palsu dan spam untuk menyebarluaskan propaganda tersebut," ujar Nimmo, seperti dikutip dari New York Post, Senin (31/8/2020).

Menurut Nimmo, akun bot seperti ini berpotensi menjadi kekuatan yang sangat besar jika dibiarkan terus menerus, apalagi konten yang disebar adalah propaganda politik pro-China, isu yang saat ini sedanf sensitif di Amerika Serikat.

"Akun palsu seperti ini adalah plankton di lautan disinformasi: mereka tidak memberika dampak signifikan jika beroperasi secara individu, tetapi mereka bisa mengakibatkan risiko besar jika bersatu dalam jumlah yang banyak," tulis Nimmo.

Ilustrasi Twitter. [Shutterstock]
Ilustrasi Twitter. [Shutterstock]

 

"Mereka juga dapat mengungkapkannya, jika sekumpulan akun tidak autentik yang memberikan amplifikasi komersial tiba-tiba berubah menjadi tema geopolitik," pungkasnya.

Itulah tindakan platform media sosial ini yang membekukan ribuan akun Twitter terhubung dengan propaganda politik pro-China. (Suara.com/ Tivan Rahmat).

Terkait

Terkini