Jum'at, 25 September 2020
Dinar Surya Oktarini : Senin, 31 Agustus 2020 | 13:45 WIB

Hitekno.com - Media sosial Facebook dicap sebagai platform berbahaya karena gagal menindak tegas pada 3,8 miliar berita hoaks terkaiit virus corona yang tersebar di platform tersebut. 

Facebook dituduh berkontribusi dalam membantu menyebarkan berita tak benar terkait kesehatan dengan mengumpulkan miliaran konspirasi yang memperburuk situasi di tengah pandemi.

Selama beberapa bulan terakhir, Facebook sedang berada di bawah pengawasan sejumlah organisasi di dunia, termasuk aktivis nirlaba Avaaz, yang telah menerbitkan hasil penyelidikan atas kegagalan Facebook untuk menutupi berita palsu seputar virus corona.

Dalam laporannya, Avaaz menyebut bahwa kesalahan informasi kesehatan yang tersebar di Facebook sejak tahun lalu berjumlah 3,8 miliar postingan, baik berupa tautan, video, atau caption dari akun Facebook.

Ilustrasi hoaks. (Shutterstock)

Avaaz juga memperkirakan, puncak peredaran hoaks kesehatan terjadi pada April 2020, dengan jumlah 460 juta postingan tentang Covid-19.

Selain itu, mereka mengatakan bahwa konten dari 10 situs web teratas menyebarkan berita kesehatan palsu dan hampir empat kali lebih banyak perkiraan penayangan di Facebook sebagai konten yang setara dengan 10 institusi kesehatan terkemuka.

Ironisnya, dari miliaran hoaks, hanya 16 persen misinformasi kesehatan yang dianalisis sistem dan diberi label peringatan dari Facebook, sementara 84 persen lainnya dibiarkan tetap tersebar.

Terkait sumber penyebar hoaks, Avaaz mencatut halaman publik menyumbang 43 persen dari total misinformasi kesehatan sejak tahun lalu. Bahkan secara khusus, mereka menyebut 42 halaman Facebook yang disorot sebagai "biang keladi" dibalik penyebaran hoaks.

"Facebook gagal menjaga keamanan dan informasi selama pandemi. Informasi kesehatan yang salah adalah ancaman kesehatan bagi masyarakat global," tulis Avaaz dalam laporannya, seperti dikutip dari The Sun, Senin (31/8/2020).

Di antara miliaran hoaks kesehatan yang beredar, terdapat beberapa konten yang menjadi viral, seperti penyakit polio yang disebabkan oleh vaksin, hingga Bill Gates yang dituding menjadi penyebab kelumpuhan 500 ribu anak-anak di berbagai belahan dunia.

Berita palsu lainnya yang menjadi viral di Facebook adalah kabar yang menyebutkan bahwa American Medical Association mendorong dokter dan rumah sakit untuk melebih-lebihkan angka kematian akibat Covid-19.

Terkait tudingan yang dilayangkan Avaaz kepada Facebook, pihak perusahaan telah mengumumkan pernyataan resminya yang sebagian besar didominasi dengan sanggahan.

"Ada beberapa hasil investigasi Avaaz yang salah dan tidak sesuai dengan data internal kami. Dari April hingga Juni, kami menerapkan label peringatan pada 98 juta keping informasi yang salah tentang Covid-19," papar juru bicara Facebook.

"Dan (kami) telah menghapus 7 juta konten yang dapat mengakibatkan bahaya dalam waktu dekat. Kami telah mengarahkan lebih dari dua miliar orang ke sumber terpercaya dari otoritas kesehatan," imbuhnya.

Ilustrasi Facebook. [Austin Distel/Unsplash]

Meski begitu, Facebook juga tidak menampik bahwa pihaknya memang belum bisa sepenuhnya memberantas hoaks kesehatan di platform miliknya. Namun, Facebook mengupayakan untuk meminimalisirnya dengan berbagai upaya.

Pihak Facebook mengatakan apabila seseorang membagikan tautan terkait Covid-19, pihaknya akan menampilkan pop-up untuk menghubungkan mereka dengan informasi kesehatan dari sumber yang dipercaya. (Suara.com/Tivan Rahmat)

BACA SELANJUTNYA

Update! Facebook Uji Coba Aplikasi Kampus untuk Mahasiswa