Rabu, 21 Oktober 2020
Agung Pratnyawan : Rabu, 05 Agustus 2020 | 12:12 WIB

Hitekno.com - Gojek menawarkan solusi komprehensif yang disebut-sebut mampu mewujudkan integrasi transportasi multimoda. Ini diklaim akan meningkatkan kelancaran dan kenyamanan mobilitas perkotaan.

Solusi Gojek dalam bentuk inovasi teknologi dan non-teknologi menjadi komitmen nyata super-app terdepan di Asia Tenggara ini dalam mendukung visi terciptanya sistem pengelolaan transportasi terpadu.

Salah satu bentuk nyatanya adalah kehadiran layanan GoRide Instan di empat stasiun terpadu, yaitu Stasiun Juanda, Stasiun Sudirman, Stasiun Tanah Abang, dan Stasiun Pasar Senen.

Dalam diskusi media bertajuk "Gojek dan Masa Depan Integrasi Antar-Moda Transportasi Publik di Jabodetabek" yang digelar hari ini (4/8), Raditya Wibowo, Head of Transport Gojek Group memaparkan rangkaian solusi Gojek termasuk layanan GoRide dan GoCar menjadi pilihan utama masyarakat sebagai sarana penghubung awal dan akhir perjalanan (first-mile-last-mile) bagi pengguna transportasi publik di Jabodetabek.

Dengan Gojek, transportasi publik lebih mudah dijangkau dan lebih sering digunakan masyarakat. Hal ini terbukti dari jumlah perjalanan dengan Gojek dari dan menuju hub transportasi yang meningkat 46% setiap tahunnya.

"Kenaikan tersebut menunjukkan kehadiran layanan GoRide dan GoCar telah menjadi bagian penting yang melengkapi transportasi publik guna memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat di wilayah urban seperti Jabodetabek," ungkap Raditya.

Pernyataan Raditya tersebut diperkuat dengan data internal Gojek yang menyatakan 1 dari 2 pelanggan Gojek pernah menggunakan layanan Gojek dari atau menuju hub transportasi.

Solusi Gojek untuk Transportasi Publik Lebih Terintegrasi. (dok.Gojek)

 

Kemudian, jumlah pengguna yang menggunakan layanan GoRide dan GoCar untuk mencapai stasiun MRT pada Desember 2019 meningkat hampir tujuh (7) kali lipat sejak MRT diluncurkan.

Sebelas (11) lokasi stasiun KRL Commuter Line dan Kereta Jarak Jauh juga menjadi titik berangkat dan tujuan yang paling sering dipesan pengguna layanan GoRide di Jabodetabek.

Raditya menjelaskan, masyarakat yang menggunakan GoRide dan GoCar sebagai penghubung awal dan akhir perjalanan (first-mile-last-mile) ke pusat transportasi publik juga menghemat waktu perjalanan hingga 40%.

Fitur dan layanan GoRide Instan mampu memangkas waktu tunggu pengguna hingga 40% di berbagai titik hubung transportasi publik seperti Stasiun MRT, KRL, dan Transjakarta.

"Untuk meningkatkan integrasi transportasi multimoda, Gojek juga telah menghadirkan solusi teknologi GoTransit. Solusi ini membantu pengguna kami untuk merencanakan dan memantau perjalanan dari/ke berbagai titik hub transportasi publik melalui rekomendasi rute terintegrasi dan informasi operasional. Nantinya, layanan GoTransit ini akan memungkinkan pemesanan maupun pembelian tiket transportasi multimoda. Perjalanan yang lebih terhubung kami percayai bisa membuat masyarakat lebih banyak menggunakan transportasi publik," ujar Raditya.

Sementara, pada masa adaptasi kebiasaan baru seperti saat ini, Gojek telah melengkapi solusi non-teknologinya dengan protokol kesehatan dan keselamatan.

Raditya mengatakan, "Kami telah memiliki 35 Zona NyAman J3K (Jaga Keamanan, Jaga Kesehatan, Jaga Kebersihan) di berbagai kota termasuk di Jabodetabek. Di sini, terdapat pengukuran suhu tubuh bagi pelanggan dan mitra driver; pengelolaan antrian dengan prinsip physical distancing; penyediaan hand sanitizer dan hairnet; serta distribusi masker gratis untuk pengguna yang belum membawanya. Gojek adalah aplikasi on-demand pertama yang memiliki layanan kesehatan ini untuk konsumen."

Keandalan layanan dari Gojek dalam mendukung integrasi transportasi multimoda diperkuat oleh survei terbaru dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Dalam diskusi yang sama, Harya S. Dillon, Ph.D. - Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat mengatakan, "Kepercayaan penggunaan ojek online seperti Gojek di masa adaptasi kebiasaan baru mencapai
hingga 45% dari total pengguna aktif transportasi publik, menduduki tingkat pertama dibandingkan pilihan transportasi lainnya. Total pengguna ojek online tersebut setidaknya mendukung hampir 66.2% total responden untuk tetap mau menggunakan transportasi publik," ungkap Harya.

Harya memaparkan, kehadiran transportasi online menjawab tantangan terkait simpul-simpul transportasi publik yang seringkali sulit untuk dijangkau masyarakat.

"Kehadiran transportasi online memberikan nilai lebih yang sebelumnya didapat dari transportasi pribadi. Sehingga, harus dimaksimalkan melalui integrasi antarmoda sebagai segmen sarana penghubung awal dan akhir
perjalanan (first-mile-last-mile). Integrasi ini akan membuat pengguna angkutan publik/ moda raya dapat melakukan perjalanan secara mulus, tuntas dengan minim kendaraan pribadi."

Mengutip riset yang dilakukan Muhammad Zudhy Irawan S.T., M.T., pengajar di Fakultas Teknik UGM dan Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM yang dipresentasikan pada 21 Februari 2020, keberadaan transportasi online juga telah menjadi pelengkap dari transportasi publik.

Penelitian yang sama juga menemukan, meski sebagian besar pengguna transportasi publik menggunakan dua layanan transportasi online sekaligus, namun pengguna setia Gojek dua setengah kali (2,5x) lebih besar dibanding kompetitor terdekat.

Bahkan Gojek unggul dari sisi ketersediaan driver, perilaku driver ke pengguna layanan, kemudahan penggunaan aplikasi serta keamanan dan keselamatan.

BACA SELANJUTNYA

Rayakan Ultah Gojek ke-10, GoFood Hadirkan Promo Hari Jadi Terbesar 2020