Sabtu, 08 Agustus 2020
Dinar Surya Oktarini : Jum'at, 17 Juli 2020 | 18:00 WIB

Hitekno.com - Emoji wajah tertawa dengan air mata sukacita merupakan salah satu emoji yang paling sering digunakan berdasarkan data Unicode Consortium

Penggunaan emoji ini terhitung sebanyak 9,9 persen dibandingkan dengan emoji lainnya. 

Emoji tersebut melampaui emoji hati berwarna merah (6,6 persen) dan emoji wajah tersenyum dengan mata berbentuk hati (4,2 persen).

 Organisasi nirlaba yang berbasis di Silicon Valley, yang memiliki perwakilan dari raksasa teknologi, universitas dan lembaga pemerintah, itu melakukan riset dengan tujuan untuk menyeleksi emoji baru, seperti yang dikutip dari Suara.com.

"Memahami seberapa sering emoji digunakan membantu memprioritaskan kategori mana yang menjadi fokus," kata Mark Davis, presiden dan salah satu pendiri Unicode Consortium, dikutip dari situs resmi unicode, Jumat (17/7/2020).

Emoji populer. (Emojipedia)

 

Sementara itu, dikutip dari laman Quartz, emoji paling populer wajah dengan air mata sukacita, yang mengalahkan 2.822 emoji lainnya, terpilih menjadi "word of the year" Kamus Oxford pada 2015, pertama kalinya dalam sejarah bahwa "kata" yang dipilih adalah sebuah pictograph.

Diperkenalkan pada 2010, emoji tersebut biasanya digunakan untuk menekankan kelucuan, respons untuk komentar lucu atau bahkan melembutkan ucapan sarkastik.

Sifat berlebihan yang dimiliki emoji wajah dengan air mata sukacita adalah inti dari daya tarik emoji tersebut, menurut Monica Riordan, psikolog kognitif yang memiliki spesialisasi dalam komunikasi yang dimediasi komputer.

"Pada dasarnya Anda mencoba untuk menyandikan serangkaian isyarat emosional dan sosial yang sangat kompleks ke dalam grafik kecil dan kemudian berharap bahwa orang lain dengan tepat menafsirkan apa yang Anda coba sampaikan," ujar Riordan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa 55 persen komunikasi manusia adalah melalui bahasa tubuh -- gerak tubuh, postur, ekspresi wajah -- dan 38 persen disampaikan oleh nada dan infleksi pembicara.

"Isyarat ini menghilang dalam pesan teks, jadi kita mengimbanginya dengan melebih-lebihkan respons kita," ujar Riordan.

"Kita cenderung menggunakan emoji ekstrem untuk meningkatkan respons. Orang-orang biasanya tidak menangis ketika tertawa," dia melanjutkan.

Lebih lanjut, Riordan mengatakan bahwa kecenderungan karakter hiperbolik juga bisa melebih-lebihkan kebenaran.

"Karena mereka (penerima pesan) tidak dapat melihat wajah kita atau mendengar nada suara kita, kita sebenarnya dapat menggunakan emoji untuk mengekspresikan emosi yang tidak kita rasakan," kata dia.

Dia menambahkan, intinya, pesan digital membatasi kemampuan kita untuk menyampaikan nuansa atau kehalusan.

Sebagian besar Emoji adalah "alat pemelihara hubungan," jelas Riordan, dan digunakan untuk mengekspresikan emosi yang kita tahu orang lain ingin kita ungkapkan.

Kini emoji wajah dengan air mata sukacita ini hanyalah sinyal dari rasa kasih sayang, menurut Riordan. (Suara.com/Risna Halidi)

BACA SELANJUTNYA

Mengarah ke Orientasi Seksual, Facebook dan Instagram Larang 3 Emoji Ini