Kamis, 28 Mei 2020
Agung Pratnyawan : Rabu, 22 Januari 2020 | 10:45 WIB

Hitekno.com - Kerajaan Agung Sejagat sempat membuat geger media sosial setelah jadi sorotan netizen. Beberapa orang telah menjadi korban dari pendirian kerajaan baru ini.

Salah satunya Setyo Eko Pratolo, korban Kerajaan Agung Sejagat yang mengaku dirugikan oleh kerajaan baru ini.

Ia membeberakan sejumlah kerugian yang dialami gara-gara ikut Kerajaan Agung Sejagat. Bahkan ia mengaku istrinya marah dan membuatnya malas untuk pulang ke rumah.

Hal ini disampaikan Setyo Eko Pratolo saat hadir dalam acara ILC TV One yang bertajuk "Siapa di Balik Raja-raja Baru" yang tayang pada Selasa (21/1/2020) malam.

Awalnya ia menjelaskan bahwa ada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan masing-masing anggota Kerajaan Agung Sejagat. Mulai dari biaya mendaftar hingga mendapat jabatan.

Ia juga membeberkan bahwa ada kaitan antara Kerajaan Agung Sejagat dengan Sunda Empire.

"Saya membayar Rp 15 ribu sebagai kartu anggota. Setelah adanya Sunda Empire itu baru lumayan mengeluarkan uang. Waktu di Sunda Empire untuk baju seragam Rp 3 juta," tutur Setyo Eko Pratolo.

Warga Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, digegerkan oleh kemunculkan orang yang mengaku sebagai pemimpin Kerajaan Agung Sejagat alias Kerajaan Agung Sejagat. [Facebook]

 

Eko mengungkapkan bahwa biaya-biaya ini belum termasuk untuk mendapatkan jabatan tertentu di kerajaan fiksi tersebut.

"Itu belum termasuk untuk jabatan. Ini jabatan tingkat dunia, jadi dengan adanya jabatan itu berbeda-beda tarifnya," kata korban Kerajaan Agung Sejagat.

Saat terbentuk Sunda Empire permainan tarif untuk mendapatkan jabatan tertentu juga dilakukan. Alasannya adalah untuk memenuhi struktur jabatan.

"Menjelang adanya Keraton Agung Sejagat ini juga bisa merasakan gedenya uang juga. Tadi kaitan dengan jabatan, satu bintang itu juga harganya lumayan." kata Setyo Eko Pratolo.

Menurut pengakuannya, untuk memperoleh satu bintang di KAS, Eko harus membayar sebesar Rp 800 ribu.

"Bintang tiga (letnan jendral) itu harga baju Rp 2.054.000," ujar Eko yang mengaku mengeluarkan biaya untuk membayar itu semua dari tabungan dan pinjaman.

Karni Ilyas, pembawa acara ILC bertanya, "Istri enggak marah?"

Sejumlah warga berdatangan ke lokasi Keraton Agung Sejagat yang terletak di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Senin (13/1/2020) malam. [SuaraJogja/Muhammad Ilham Baktora]

 

"Waduh, kok istri enggak marah. Dengan adanya ini (Kerajaan Agung Sejagat) saya malas pulang, pak Karni. Bikin kopi sendiri, tapi kemarin pas saya mau berangkat ke ILC istri nyuci, saya kasih uang," jawab Setyo Eko Pratolo.

Ia tertarik ikut KAS karena alasan ekonomi. Ia mengaku bayaran sebagai perangkat desa tidak besar.

"Waktu saya menjabat perangkat desa dulu awalnya untuk honornya minim sekali," kata Setyo Eko Pratolo.

Apalagi setelah KAS menjanjikan akan memberi bayaran berupa dolar. Honor yang dijanjikan Kerajaan Agung Sejagat untuk tingkat desa mulai Rp 4-7 juta, tingkat kecamatan sampai Rp 25 juta.

Nyatanya, Setyo Eko Pratolo tidak pernah menerima sekalipun honor tersebut dari Kerajaan Agung Sejagat.

Ia juga curiga terhadap Toto Santoso yang mengklaim dirinya sebagai Raja Kerajaan Agung Sejagat tidak bisa menjawab pertanyaan wartawan perihal identitasnya dan tidak mengaku NKRI.

Itulah pengakuan korban Kerajaan Agung Sejagat yang sampai tak berani pulang karena takut istri ngomel. (Suara.com/ Rifan Aditya).