Minggu, 26 Januari 2020

Netizen Ribut Surabaya Banjir, Bu Risma Jadi Sorotan

Perdebatan panas netizen terkait Surabaya banjir membuat nama Bu Risma jadi sorotan.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini. [Suara.com/Dimas Angga Perkasa].
Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini. [Suara.com/Dimas Angga Perkasa].

Hitekno.com - Surabaya banjir jadi topik pembicaraan netizen di media sosial sejak Rabu (15/1/2020) sore. Netizen pun tak luput menyoroti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau lebih akrab dipanggil Bu Risma.

Seperti diberitakan, Surabaya banjir setelah mengalami hujan deras disertai dengan angin kecang. Sejumlah lokasi di Kota Pahlawan itu terendam banjir cukup dalam.

Nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Risma ramai menjadi bahan perdebatan netizen. Bahkan "Bu Risma" masuk dalam daftar trending topik Twitter pada Kamis (16/1/2020) pagi.

Selain itu, Surabaya juga menduduki salah satu tempat di trending topik Twitter pada Kamis Siang. 

Pantauan Suara.com, Kamis (16/1/2020) nama "Bu Risma" telah dipakai netizen dalam lebih dari 10 ribu cuitan. Dan nama Bur Risma dan Surabaya masih bertahan di trending topik Twitter.

Mereka membuat cuitan yang beragam. Ada Netizen yang menyalahkan Bu Risma atas terjadinya banjir di Surabaya.

Perdebatan panas sempat terjadi di media sosial Twitter sejak Surabaya banjir, bahkan masih panas ketika air sudah surut.

Surabaya Banjir Warganet Ribut, Bu Risma Masuk Trending Topik (twitter)
Surabaya Banjir Warganet Ribut, Bu Risma Masuk Trending Topik (twitter)

 

Seperti cuitan yang dibuat Christ Wamea berikut ini.

"Banjir di Surabaya pemkot salahkan sumbatan sampah perkotaan. Bukankah selama ini pendukung ibu Risma paling getol beropini ke publik bahwa ibu Risma paling mampu tangani masaalah sampah dikota Surabaya. Kenapa sekarang sampah disalahkan sebagai penyebab banjir di Surabaya. Ternyata tidak mampu juga atasi masalah sampah," tulis @ChristWamea.

Ada juga warganet yang membandingkan banjir di Jakarta dengan Surabaya. Ia pun menyandingkan Gubbernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Risma.

"Ibu Risma baru diuji oleh Air Hujan siang sampai sore, Banjirnya kemana2 hingga 1 M, yang disalahkan Got dan Bawahan. Anis diuji hujan ekstrim 16 jam serta kiriman air dari Depok dan Bogor menjadi Banjir besar dijawab " tanggungjawab saya ". Yang layak disebut pemimpin, siapa?" tulis @umaralims yang juga menyertakan video banjir di Surabaya.

Sementara itu warganet lain juga tidak sedikit yang membela Risma.

Seperti cuitan yang dibuat oleh @jr_kw19 yang menulis, "Surabaya banjir. Nih 3 jam surut. Semua tergantung pemimpinnya becus opo ora. Ga pake berhari2 surut debat sono sini. Kerja eksekusi kelar. Semua karena siap dan waspada budget gak disunat."

Warganet lain juga membuat cuitan membela Risma dan menyebut banjir di Surabaya hanya terjadi 3 jam saja.

"Hujan lebat yang mengguyur Kota Surabaya, mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Kota Pahlawan tersebut. Kenapa tidak menyalahkan Walikotanya? Karena hanya dalam hitungan 2-3 jam, banjir tersebut surut. Bukan memakan waktu berhari-hari disertai evakuasi.Bu Risma & Surabaya keren," tulis @woelannnn.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. [Suara.com / Dimas ANGGA]
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. [Suara.com / Dimas ANGGA]

 

Untuk diketahui, Dinas Kebakaran Kota Surabaya yang turut terjun menanggapi banjir ini mencatat ada 32 titik jalan tergenang air.

Genangan air tertinggi berada di Jalan Simo Hilir Raya Utara dengan ketinggian sekitar 80 sentimeter. Untuk genangan terbanyak air di jalanan adalah setinggi 10 cm.

Menurut data, genangan air mulai naik sekitar pujul 16.00 WIB dan berangsur surut dan air banjir bersih sekitar pukul 20.00 WIB.

"Tak ada catatan dan laporan korban jiwa. Banjir cukup cepat surutnya yakni sekitar tiga jam sudah surut total," ujar Kepala Bidang Operasional Damkar Kota Surabaya, Bambang Vistadi.

Itulah keramaian netizen membahas Surabaya banjir dengan Bu Risma sebagai sorotannya hingga jadi trending topik Twitter. (Suara.com/ Rifan Aditya).

Terkait

Terkini