Rabu, 29 Januari 2020

Dapat Tekanan AS, Facebook dan Instagram Hapus Postingan Pendukung Iran

Facebook dan Instagram memenuhi permintaan AS untuk hapus postingan yang mendukung Iran.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Ilustrasi media sosial. (Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Pixabay)

Hitekno.com - Panas konflik Amerika (AS) Serikat dan Iran tidak hanya terjadi di antara dua belah negara. Netizen di media sosial seperti Instagram dan Facebook pun ramai membahas.

Kabar terbarunya, pemerintah AS telah menekan media sosial untuk menghapus konten-konten yang mendukung komandan Pasukan Quds Iran, Mayjen Qassem Soleimani.

Facebook dan Iran pun dikabarkan menyetujuinya, dan menghapus konten-konten terkait dengan dukungan kepada Iran.

Selain menghapus konten untuk Qassem Soleimani, kedua media sosial itu juga menghapus seluruh unggahan dari akun-akun yang memberikan dukungan kepada Iran.

Facebook menyebut, penghapusan konten dukungan terhadap Iran merupakan kewajiban yang harus dilakukan perusahaan untuk memenuhi permintaan AS atas sanksi yang diberikan AS terhadap Korps Pengawal Revolusi Islam Iran dan para pemimpinnya.

"Kami beroperasi di bawah undang-undang sanksi AS, termasuk yang berkaitan dengan penunjukan IRGC dan kepemimpinan Soleimani," kata juru bicara Facebook seperti dilansir dari CNN, Senin (13/1/2020).

Sebagai informasi, Qassem Soleimani dinyatakan tewas karena serangan rudal dari pesawat tanpa awak milik Amerika Serikat pada 3 Januari 2020.

Jenderal Qaseem Soleimani. (Wikipedia/Sayyed Shahab O Din Vajedi)
Jenderal Qaseem Soleimani. (Wikipedia/Sayyed Shahab O Din Vajedi)

 

Ia tewas bersama tiga orang lainnya. Sepeninggal pemimpin pasukan Iran itu, dukungan di dunia maya mengalir deras untuk Iran.

Instagram sendiri diketahui merupaian salah satu platform media sosial yang membatasi konten bermuatan dukungan terhadap negara Islam, termasuk Iran.

Platform itu sudah memblokir akun milik Qassem Soleimani sejak April 2019 paska AS menetapkan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris asing.

Ironisnya, langkah serupa juga diikuti oleh Facebook dan Twitter juga memblokir akun warga Iran. Alasan pemblokiran untuk Iran yang dilakukan kedua media sosial ini pun sama, yakni atas dasar permintaan AS.

Beruntung, warga masih bisa mengaksesnya lewat VPN. Setelah pemblokiran tersrbut, Juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, mengatakan bahwa langkah yang dilakukan Instagram sangat tidak demokratis.

Presiden AS, Donald Trump. (Instagram/ @realdonaldtrump)
Presiden AS, Donald Trump. (Instagram/ @realdonaldtrump)

 

Namun, meskipun kedua platform itu melarang adanya dukungan terhadap Iran, Facebook dan Instagram tetap mempersilakan pengguna untuk mengajukan banding jika merasa konten mereka diblokir.

Lebih jauh lagi, perusahaan rintisan Mark Zuckerberg ini mengatakan perusahaan juga menghapus akun yang dijalankan oleh atau atas nama orang dan organisasi yang terkena sanksi AS.

Mereka juga diminta untuk menghapus konten yang memuji tindakan pihak dan individu yang terkena sanksi dan memberikan dukungan untuk membantu tindakan mereka lebih lanjut.

Di sisi lain, kematian Qassem Soleimani menyebabkan duka mendalam di antara masyarakat Iran dan negara Islam lainnya. Puncaknya, Iran mengancam akan melancarkan balas dendam atas kematian Qassem Soleimani.

Bahkan, Iran telah menyiapkan 13 skenario untuk pembalasan dendam tersebut. Menanggapi hal ini, warganet bahkan menduga-duga bahwa pertikaian antara AS dan Iran ini sebagai pemicu Perang Dunia III. (Suara.com/ Tivan Rahmat).

Terkait

Terkini