Jum'at, 20 September 2019

Kasus Terbaru Facebook, Nomor Ponsel Milik 400 Juta Akun Bocor

Facebook sendiri telah mengonfirmasi bahwa memang ada kebocoran data pengguna.

Dinar Surya Oktarini
cover_caption
Ilustrasi password. (unsplash/Yura Fresh)

Hitekno.com - Sebanyak nomor ponsel lebih dari 400 juta akun Facebook di seluruh dunia bocor di internet. Hal ini merupakan skandal keamanan privasi terbaru yang melibatkan perusahaan media sosial terbesar di dunia. 

Dilansir dari kantor berita AFP melalui Suara.com, mengutip laporan media-media Amerika Serikat, Kamis (5/9/2019), ditemukan sebuah server - yang bisa diakses dengan leluasa - yang menyimpan 419 juta data pengguna Facebook.

Dari jumlah itu, 133 juta pengguna berasal dari AS, lebih dari 50 juta berasal dari Vietnam, dan sekitar 18 juta pengguna asal Inggris.

Data-data itu berisi nama ID pengguna - yakni deretan angka yang menjadi identitas unik setiap akun, nomor telepon yang digunakan untuk membuat akun, jenis kelamin, dan lokasi pemilik akun.

Server tempat data-data itu disimpan tidak dilindungi oleh password. Artinya siapa saja bisa mengaksesnya dengan leluasa. Hingga Rabu kemarin, server tersebut masih aktif.

Ilustrasi Facebook. (HiTekno.com)
Ilustrasi Facebook. (HiTekno.com)

 

Facebook sendiri telah mengonfirmasi bahwa memang ada kebocoran data pengguna, tetapi jumlah yang diumbar oleh media disebut perusahaan itu tak benar. Facebook mengatakan jumlah akun yang datanya bocor hanya sekitar 200 juta.

"Kumpulan data itu telah dihapus dan kami tidak menemukan bukti bahwa akun-akun Facebook itu dirampas," kata juru bicara Facebook.

Facebook sedang menjadi sorotan. Baru-baru ini seorang senator Amerika Serikat mengatakan pendiri dan bos Facebook, Mark Zuckerberg seharusnya dipenjara karena berkali-kali berbohong soal keamanan data pengguna.

Salah satu skandal terbesar Facebook terbongkar pada 2018 lalu, ketika terungkap bahwa data pribadi puluhan juta pemilik akun Facebook di dunia diambil oleh perusahaan Cambridge Analytica dan dimanfaatkan untuk merancang kampanye politik di sejumlah negara, termasuk di AS saat pemilu 2016.(Suara.com/Liberty Jemadu)

Terkait

Terkini