Selasa, 26 Mei 2020
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Jum'at, 24 Agustus 2018 | 18:00 WIB

Hitekno.com - Baru-baru ini Facebook diketahui telah menghapus banyak halaman yang terkait dengan kampanye politik Iran dan Rusia. Tercatat sudah ada 652 akun palsu dan beberapa halaman yang telah terdeteksi melakukan kampanye politik.

Kampanye tersebut pertama kali ditemukan oleh firma keamanan siber FireEye. Firma itu menemukan bahwa ratusan akun palsu ternyata memiliki tautan ke Rusia dan Iran.

"Ini adalah jaringan akun yang menyesatkan orang-orang tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Kami melarang perilaku semacam ini karena keaslian itu penting,'' kata CEO Facebook, Mark Zuckerberg dalam pernyataan resminya.

Dilansir dari The Verge, pada bulan Juli 2018, FireEye memberi tahu Facebook tentang keberadaan jaringan halaman yang dikenal sebagai Liberty Front Press.

Ilustrasi pemblokiran oleh Facebook. (Sky News)

 

Jaringan itu mencakup 70 akun, tiga grup Facebook, dan 76 akun Instagram. Pengikut dari Facebook mencapai 155 ribu pengikut sedangakan di Instagram mencapai 48 ribu pengikut.

FireEye menambahkan bahwa jaringan itu menjalin hubungan dengan media pemerintah Iran.

Facebook memperkirakan mereka telah menghabiskan 6 ribu dolar AS atau Rp 88 juta sejak tahun 2015 sampai akun tersebut ditutup.

Jaringan tersebut juga telah berhasil menyelenggarakan tiga acara berbau politik.

Liberty Free Press juga dikaitkan dengan serangkaian halaman yang provokatif. Selain itu, Facebook juga menemukan mereka meretas akun orang dan menyebarkan malware.

Investigasi selanjutnya menemukan bahwa terdapat halaman yang terhubung dengan Iran yang dibuat pada tahun 2011. Halaman itu juga memposting politik di Timur Tengah, Inggris, dan Amerika Serikat.

Twitter juga menghapus lebih dari 200 akun setelah diberi tahu oleh Fire Eye. Tim keamanan Twitter juga mengatakan mereka telah bekerja sama dengan penegak hukum.

Selain kampanye politik, Facebook dan Twitter menutup banyak akun palsu karena terkait dengan topik-topik yang memecah belah termasuk kampanye supremasi kulit putih.