Rabu, 27 Mei 2020
Rendy Adrikni Sadikin : Selasa, 17 Juli 2018 | 14:59 WIB

Hitekno.com - Setelah Bandung, PT Santos Jaya Abadi melalui salah satu merk-nya Kapal Api, mengadakan kegiatan networking bagi anak muda Yogyakarta untuk menciptakan ide kreatif, mewujudkan gagasan dan mengembangkan jejaring kerja, serta membangun kerjasama (ko-kreasi).

Bertempat di Ethes Co-working Space, puluhan anak muda Yogyakarta bersemangat mewujudkan ide kreatif melalui usaha sosial. Kegiatan networking di Yogyakarta ini merupakan rangkaian program dan gerakan wirausaha sosial (sociopreneurship) Secangkir Semangat #BuatNyataTujuanmu.

Indonesia diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030 mendatang dan kelompok muda pun dianggap menjadi penggerak kunci roda sosial dan ekonomi di masa depan.

Tak terkecuali di Yogyakarta, kuatnya peran komunitas anak muda Yogyakarta membuat dunia startup semakin berkembang. Yogyakarta memiliki banyak talenta muda kreatif yang mendorong munculnya komunitas kreatif yang bertambah setiap tahunnya.

Sebagai agen perubahan, anak muda diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk membantu mengentaskan permasalahan sosial-ekonomi dengan pendekatan kreatif wirausaha sosial (sociopreneur).

Namun demikian, banyak sociopreneur muda Yogyakarta dengan potensi dan pencapaian istimewa belum tersorot dan terwadahi secara baik. Mereka memerlukan ekosistem yang kondusif dan dukungan dari berbagai pihak secara lintas sektor agar terus tumbuh dan terjaga keberlanjutannya.

“Kegiatan Networking Day hadir sebagai wadah bagi anak muda untuk mengembangkan kapasitas pengetahuan, akses pada berbagai sumberdaya dan jejaring, serta dukungan dari ekosistem sosial yang diharapkan dapat membantu pengembangan produk dan jasa yang dibuat. Melihat antusiasme yang tinggi di kota Bandung, menggugah kami untuk mewadahi lebih banyak anak muda di kota lain. Didukung oleh sociopreneur Indonesia yang telah sukses di bidangnya, Kapal Api berharap dapat menggali potensi anak muda Yogyakarta dan mengajak mereka untuk menyalurkan aspirasinya serta membuat nyata tujuannya,” ujar Group Brand Manager PT Santos Jaya Abadi, Johnway Suwarsono, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Hitekno.com, Selasa (17/7/2018).

Didukung oleh BEKRAF, Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi, Ari Juliano Gema, hadir dalam kegiatan Networking Day untuk mengingatkan para pelaku ekonomi kreatif termasuk para pegiat sociopreneur mengenai pentingnya menghargai dan melindungi karya cipta intelektual.

“Seorang wirausaha sosial perlu memperhatikan dan memahami jenis hak kekayaan intelektual (HKI) yang tepat guna melindungi karyanya. HKI menjadi salah satu aset inti sebuah usaha termasuk usaha sosial. Karya-karya ekonomi kreatif harus dipastikan mendapatkan perlindungan HKI-nya sebelum dipasarkan. Hal ini untuk mendapat manfaat ekonomi yang maksimal dan menghindari karya tersebut dibajak oleh pihak lain,” tutur Ari Juliano Gema.

Founder Burgreens, Helga Angelina, yang merupakan salah satu mentor program Secangkir Semangat #BuatNyataTujuanmu, hadir dan berbagi kisah inspiratif mengenai usaha sosial yang dijalankannya.

“Bisnis kuliner sangat banyak, namun masih sedikit yang menjalankan bisnisnya dan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Misi awal saya membangun Burgreens adalah untuk mengedukasi masyarakat akan gaya hidup whole-food plant-based diet dan melestarikan lingkungan. Tidak hanya menjadi bisnis kuliner biasa melainkan juga memposisikan diri sebagai usaha sosial yang memikirkan nasib petani dan memberi kesempatan bagi wanita yang tidak berpendidikan tinggi untuk bekerja di bagian produksi,” tutur Helga Angelina.

Helga pun menambahkan bahwa sebuah usaha sosial perlu didukung oleh berbagai pihak.

“Kelangsungan usaha Burgreens tak terlepas dari kerjasama kolektif dengan puluhan petani yang mana juga mengangkat perekonomian para petani tersebut. Kolaborasi dan hubungan timbal balik itu penting dalam sebuah usaha sosial. Program networking dari Secangkir Semangat ini merupakan awal yang baik bagi para calon pegiat sociopreneur untuk memulai dan mengembangkan usaha sosialnya. Disini, kita bisa bertemu dengan sesama pegiat atau pihak dari berbagai sektor dan bisa saling belajar serta berkolaborasi satu sama lain,” tambah Helga.

Memiliki semangat pemberdayaan petani dan perempuan yang sejalan dengan Helga, mentor program asal Yogyakarta, Andhika Mahardika, Founder Agradaya, juga berbagi motivasi utama dan kiat dalam menjalankan usaha sosial.

“Perbedaan signifikan antara usaha sosial dan usaha pada umumnya berawal dari motivasi utama. Seorang sociopreneur harus memiliki motivasi utama yang bermakna agar dapat menjadi dasar keberlangsungan usaha sosialnya. Seperti kami yang memulai Agradaya karena memiliki kegelisahan terhadap lingkungan sosial dan ingin melakukan sesuatu untuk memajukan pertanian Indonesia yang memiliki potensi besar namun belum mampu meningkatkan kualitas hidup para petani. Sehingga kami mendedikasikan hidup kami untuk membantu para petani,” ungkap Andhika Mahardika.

Asri Saraswati, Founder Agradaya yang juga merupakan istri Andhika menambahkan, “Kami mengajak petani dan perempuan-perempuan desa untuk cinta lingkungan sekaligus mengelola hasi pertanian yang sehat. Menghadapi warga desa bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi mereka cenderung susah mengambil resiko dan mencoba hal baru. Oleh karena itu, butuh pendekatan serta pengarahan yang baik. Kita perlu membangun kewirausahaan melalui pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitar dengan saling berbagi ilmu dan keterampilan.”