Sabtu, 28 November 2020

Meredup selama 2019, Ini Daftar Kesalahan Samsung di Indonesia

Sejak 2016, Samsung selalu merajai pasar smartphone Indonesia. Baru 2019 ini tergusur.

Agung Pratnyawan
cloud_download Baca offline
Gedung Samsung Campus. (Samsung)
Gedung Samsung Campus. (Samsung)

Hitekno.com - Samsung yang selama ini tangguh di pasar smartphone Indonesia, nampak meredup pada 2019 kemarin. Hal ini terjadi pertama kalinya sejak 2016 lalu.

Sejak 2016, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini selalu merajai pasar smartphone Indonesia.

Dua firma riset pasar terkemuka, IDC dan Canalys belum lama ini mengumumkan bahwa di kuartal III 2019 penguasa pasar smartphone Indonesia telah jatuh ke tangan Oppo.

Samsung yang merebut penguasa pasar smartphone Indonesia setelah mengalahkan Asus di 2016, juga kalah dari Xiaomi dan Vivo.

Di kuartal ketiga 2019, demikian menurut IDC, Samsung hanya menguasai 19,4 persen pasar. Di sisi lain Oppo membukukan penguasaan pasar sebesar 26,2 persen dan Vivo merebut 22,8 persen.

Menurut Canalys hingga Q3 2019, posisi teratas diambil alih Oppo dengan raihan 23 persen, disusul Xiaomi dengan market share 22 persen.

Samsung dipaksa harus puas bertengger di urutan ketiga dalam daftar ini karena hanya memperoleh pangsa pasar 21 persen.

Jika kembali ke belakang, Samsung terlihat kokoh sejak catur wulan III 2016. Saat itu, menguasai 32,2 persen pasar.

Pun begitu dengan periode sama di dua tahun berikutnya, Samsung masih unggul atas kompetitornya di Q3 2017 dengan raihan 30 persen dan Q3 2018 dengan torehan 28 persen.

Data dua firma itu disanggah oleh Samsung. Mengutip riset Counterpoint Samsung mengklaim masih menguasai pasar smartphone Indonesia karena berhasil menguasai 22 persen pangsa pasar.

Kendati ada perbedaan hasil riset yang dirilis oleh ketiga lembaga riset tersebut, satu benang merah yang bisa disimpulkan dari paparan tersebut adalah penurunan pangsa pasar Samsung di Indonesia.

Lantas, apa yang membuat hal itu terjadi?

Samsung kurang agresif

Samsung Galaxy A20 gunakan layar Super AMOLED. (Samsung)
Samsung Galaxy A20 gunakan layar Super AMOLED. (Samsung)

 

Untuk mengetahui alasan jatuhnya Samsung di pasar smartphone Indonesia, Suara.com pun berkonsultasi kepada Risky Febrian, Market Analyst IDC Indonesia dalam sebuah wawancara eksklusif, belum lama ini.

Menurut Risky, tekanan dari vendor smartphone asal China menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan pangsa pasar smartphone Samsung di Indonesia tahun 2019.

"Oppo, Vivo, dan Realme sangat agresif meluncurkan smartphone baru di tahun ini. Sementara Xiaomi, memang sedikit merilis (smartphone baru), tapi fans base-nya banyak di sini," ujar Risky.

Sebagai informasi, Realme merilis lebih dari 10 model smartphone di tahun pertama mereka beroperasi di Indonesia. Pun begitu dengan Oppo dan Vivo yang meluncurkan lebih dari 5 model baru.

Memang, diakui Risky, Samsung merespon gempuran tersebut dengan cepat, karena di awal tahun mereka memperkenalkan seri Galaxy A dan Galaxy M.

Harga terlalu mahal

Samsung Galaxy A30s. (Samsung Indonesia)
Samsung Galaxy A30s. (Samsung Indonesia)

 

Hanya saja, Samsung kurang berani bermain dengan harga murah. Lain halnya dengan kompetitor mereka dari China yang jor-joran menawarkan smartphone spek tinggi, namun dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau.

"Mereka (smartphone China) berani membawa smartphone spek tinggi dengan harga murah. Sementara Samsung, dalam beberapa tahun terakhir, menempatkan diri sebagai smartphone kelas premium. Namun perlu dicatat, orang Indonesia itu sangat sensitif dengan harga," imbuhnya.

Alih-alih merespon tekanan China dengan membanjiri produk baru dari segmen menengah ke bawah, Risky justru melihat fenomena tersebut sebagai bumerang untuk Samsung.

"Samsung terlalu cepat meluncurkan smartphone baru yang speknya tidak terlalu jauh berbeda dengan smartphone sebelumnya. Awal tahun, Galaxy A dan Galaxy M banyak muncul, tapi nggak sampai setahun sudah ada versi barunya (Galaxy A10s, Galaxy M30s, dll)," terang Risky.

Jarak peluncuran smartphone baru yang terlalu cepat, namun speknya tidak terlalu jauh berbeda itulah yang dinilai Risky justru membingungkan konsumen.

Sementara di sisi lain, Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Realme memang sering mengeluarkan smartphone baru, namun dengan perbadingan spek dan harga yang dikemas lebih menarik.

"Samsung berusaha memperbaiki situasi dengan menawarkan smartphone di segmen low end. Tapi soal harga, price to specs yang ditawarkan smartphone China lebih menarik," tutup Risky.

Itulah cacatan Samsung selama 2019 yang tak setangguh dulu di pasar smartphone Indonesia. (Suara.com/ Tivan Rahmat).

Terkait

Terkini